batas nan semu


Bruggg…, aku terjatuh dan terkelungkup…, “Oh Tuhan,  dimana kah ini?…., hanya lautan luas tanpa ujung yang terlihat. Kenapa tiba-tiba berada di pulau dengan luas selemparan batu…, sendiri pula”. Sial, ini pasti mimpi,  Ah, harusnya ada pohon kelapa yang menemani. Lautan biru pun harusnya ada riak kecil,  ada gelombang pelan dan semilir angin.

Semua nya tidak sesuai gambaran klise. Sendiri di pulau tanpa pohon kelapa dan air laut yang tidak bergerak. Air laut ini pasti hanya ilusi.  Aku berjalan ke laut dan airpun hanya bergerak pelan. Hmm….. air laut ini memang seperti tidak ada, pakaian yang melekat di badan tidak basah sedikit pun, ketika air masuk ke mulut dan hidung,  tidak terasa asin sama sekali.. semakin banyak air laut masuk ke mulut dan hidung,  aku mulai kehabisan napas. Oh.. ini mungkin awal kematian, tidak!!, aku masih mau hidup.., aku kembali berlari ke pulau kecil.

Apa berenang saja? .., tapi aku tidak bisa berenang. Loh ini kan mimpi, jadi aku bisa berenang dalam mimpi.  Ide bagus…, aku pun langsung nyebur dan berenang. Halahh…, cuma kuat beberapa meter.  Dari pada mati tenggelam, lebih baik kembali le pulau.

Sendiri di tempat seperti ini akan memunculkan imajinasi kosong, fatamorgana dan hilangnya akal sehat.  Namun dalam keadaan tersulit dengan pilihan hidup atau mati akan memaksa semua Indra bekerja dengan kapasitas maksimum bahkan terkadang muncul indera tambahan yang dikenal indera keenam. Aku tidak akan menyerah. Aku perlu makan dan minum untuk bertahap hidup, membuat api unggun supaya tidak mati kedinginan. Air, tidak masalah, sepanjang mata memandang hanya air. Makanan yang tersedia di tempat seperti ini harusnya ikan. Anehnya,  tidak  ada ikan satu ekor pun.  Air lautan ini hanya berisi air dan air. Membuat api unggun lebih tidak mungkin lagi.

Tapi….., Mimpi,  ini memang mimpi, aku tidak perlu bersusah payang berenang, membuat api unggun. Cara terbaik adalah bangun dari mimpi buruk ini. Dari semua yang kulihat dan kurasa diluar nalar. Lalu bagaimana caranya????. Dengan melangkah aku bisa kembali ke air laut ini. Meloncat lebih aman… meloncat dan meloncat. Ya, dengan meloncat terus,  aku pasti bangun. Satu, dua, tiga,… , n, …. aku terus meloncat dengan jumlah bilangan yang mulai ngawur. Oh, Tuhan…, cepat bangunkanlah aku… andaikan aku tidak bangun, aku terus meloncat.

“Ayahhh…, ayah….” ada suara halus perlahan namun semakin kencang.  Oh, syukurlah ada yang menemani meskipun hanya suara. “Ayah… hei ayah sayang…. ada apa”.. Oh, Terima kasih Tuhan, suara itu seperti aku kenal dan semakin dekat. Seperti nya ada teman yang mendekat. Aku akan meloncat terus sampai bangun.

Dua ratus dua, 203, 204, 403, 304… ah semakin ngawur.. yang penting loncat.  Badanku seperti ada yang menggoyang-goyang. Wow meloncat ini memang menakjubkab. Dari muncul suara sampai badan yang kemudian bergoyang-goyang. “Ayah bangun,  bangun dulu…., kenapa sayang?…”, samar kulihat wajah wanita…. Terima kasih Tuhan, akhirnya kau kirim teman ke pulau ini, wanita pula. Aku terus meloncat dan wanita itu terus menepuk dan menggoyang-goyang badanku.

Energi ku sudah mulai habis, mungkin ini loncatan terakhir dan aku buat setinggi-tingginya dan brugggg….., aku terjatuh di tempat tidur. Oh.., syukurlah, akhirnya bisa bangun juga. “Ayah, mimpi apa?…, tempat tidur digoyang-goyang sampai mau runtuh”. Antara sadar dan tidak sadar, aku bangun dari tempat tidur,  minum segelas air putih dan duduk di pinggir tempat tidur.  “Hadooh,  mimpi gak jelas Mah, aku terdampar di pulau sempit tak berpenghuni satu mahluk hidup pun”. Isteri ku mengelap keningku yang berkeringat dengan  tissue,  “Ayah kecapaian, tadi pulang kerja larut malam, sekarang tidur lagi aja yah..”.

Tidur lagi?.., bagaimana kalau aku kembali bermimpi di pulau dengan seekor harimau buas. Matilah aku. “Nanti dulu Mah, ayah masih trauma dengan mimpi tadi, ayah mau lihat anak-anak dulu, tadi ga sempat lihat, karena langsung tidur”. Aku bangun dan beranjak dari tempat tidur, melangkah ke pintu kamar.

Kubuka pintu kamar dan ketika melangkah keluar kamar, Dugggh…., aku seperti menabrak kaca. Hahhh, kaca apa ini, sejak kapan pintu kamar dipasang kaca. Ah, rupanya, kesadaranku belum pulih benar. Aku bersandar di dinding beberapa detik. Kemudian kembali melangkah ke pintu kamar. Dugg.., aku kembali menabrak suatu penghalang yang transparan. Entah kaca, atau plastik transparan yang tidak kumengerti.

Aku dorong penghalang tersebut,  tidak bergerak sama sekali. Kutendang, malah membuat kaki memar. “Mamah, siapa yang pasang kaca di pintu kamar?!!….” aku ingin marah!!!. Isteriku hanya tersenyum. “Sayang, tentu saja tudak ada orang yang memasang kaca mati di pintu kamar”. Oh, Tuhan…, ia tidak percaya. “Mamah, kesini dulu!!, lihat kaca ini….”. Aku kembali menendang kaca aneh ini. “Tidak perlu sayang…, kita sedang bermimpi,  apa ayah belum bisa membedakan batas dunia sadar dan dunia mimpi…”

Gubrakkk. .., aku terduduk di pinggir dinding.  Aku baru terbangun dari dari mimpi dan terbangun dalam mimpi yang lain. Aku memejamkan mata selama mungkin dan kemudian membuka mata, siapa tahu, sudah bangun dalam dunia nyata yang sebenarnya. ” Ayah, aku kedinginan…”, isteri ku malah menggoda manja. Oh, Tuhan, betapa cantik,  Isteriku ini. “Aku bukan kedinginan lagi, aku sudah membeku”. Ingin rasanya langsung melompat ke tempat tidur. 

Tapi, apa sebenarnya kaca di pintu ini?.., aku meraba kaca di pintu. Ahh, ini nyata. “Mah, ini bukan mimpi,  kaca ini nyata… pegang lah kaca ini”, kedua tanganku berudaha keras mendorong kaca. “Ayah, lihatlah keatas,  atap rumah kita juga terbuat dari kaca transparan sehingga kita bisa melihat indahnya kelap-kelip bintang-bintang…” Isteriku malah menunjuk atap.

Hmmm, ini mungkin mimpi yang indah, pembalasan dari mimpi buruk tadi. Tidur  bersama isteri yang cantik di sebuah kamar dengan atap terbuat dari kaca tembus pandang ke langit. Astaga…., lantai yang kuinjak pun terbuat dari kaca transparan dengan air laut dibawahnya dan ikan hias warna-warni beraneka ragam yang indah dan menakjubkan. “Mamah, kita berada dimana?..” aku beranjak ke tempat tidur. “Dunia hayal, beyond reality, imajinasi tanpa batas, terserah ayah lah”. Ia membuka kancing baju. “Hey… tunggu.., tunggu… Kenapa dinding itu juga jadi tembus pandang??, wow… kamar transparan ini mengapung diatas lautan…”.  Oh indah sekali, dan hmmm,  nikmat sekali…

Aku terbangun dan melihat jam. “Hah.. sudah pukul 7 lebih. Dan oh, kenapa pula celanaku jadi basah. Aku bergegas ke kamar mandi. “Ayah kenapa terbaru-buru” tiba-tiba suara isteri ku memanggil dari ruang tengah.  “Aku kesiangan, terlambat kerja nih…, kenapa ga mamah bangunin?..” sahutku kesal. “Loh, sekarang kan hari Minggu, bukannya libur?..” isteriku terheran-heran.

Libur…?.., aku bersandar di pintu kamar mandi. Hmm…”Mamah, apakah kita berada dalam dunia nyata?…”. Aku bertanya dengan perlahan,  sambil menepuk-nepuk pipi sendiri. “Pertanyaan ayah aneh, ayah minum kopi dulu dan sarapan nasi goreng, katanya mau main sepeda ke gunung sama teman-teman ayah”. Aku melangkah ke meja makan. Mungkin ini sudah nyata. Lagipula membedakan dunia nyata dan dunia mimpi hanya membuat pusing kepala.  Sarapan ini sudah selayaknya dinikmati. Setelah nasi goreng ludes, aku kembali bertanya, apakah kejadian masuknya nasi goreng kedalam mulut sebagai sebuah mimpi?…

Setelah tersesat di dunia mimpi dan dunia nyata,  kenapa pula,  aku kembali galau dengan waktu yang telah lewat, sekarang dan masa depan. Waktu, masa, dalam hitungan detik, menit, jam, hari yang berlalu tidak bisa kita undo, tidak bisa kita ulang kembali. Dimanakah,  batas dimensi tersebut?. Muncul istilah move on untuk orang yang bisa melangkah ke dari masa lampau ke masa sekarang. Move off (mungkin loh) untuk orang yang terjebak di masa lampau dan tidak bisa beranjak ke masa sekarang. Yang ideal, motto nya pabrikan mobil Toyota,  “moving forward”.

Misteri terbesar alam semesta ini, disamping nyawa adalah waktu. Kita memahami waktu dalam satuan detik. Detik yang manusia hitung merupakan merupakan penafsiran dari perjalanan panjang Bumi berputar pada porosnya, Bumi mengelilingi Matahari.  Matahari pun berjalan mengelilingi lobang hitam. Kita melihat kelahiran bayi yang tumbuh,  dewasa, menua dan pergi selamanya.. Ah, sudahlah, Andaikan memang terdapat batas dunia nyata dan mimpi,  aku tidak akan peduli.

“Ayahhh, Barbie, mau sekolah, tapi Teddy tidak mau…”, tiba-tiba, Jasmin, anak perempuan ku yang berumur 4 tahun berlari ke arahku, sambil memegang dua boneka. Satu boneka Barbie, satu boneka beruang kecil.  Pagi begini, bidadari kecilku sudah asik dengan bonekanya. “Loh, kenapa ga mau?.., di sekolah kan banyak mainan..”. Tangan kanan Jasmin, mengangguk-anggukan Barbie,  seolah-olah Barbie berbicara,  “Tuh, kan.., kata ayah juga,  di sekolah banyak mainan, kita ke sekolah aja..”

Tangan kiri Jasmin kemudian menidurkan boneka beruang kecil dan menggeleng-geleng kepala boneka Teddy seakan-akan melakukan penolakan. “Tidak mau, aku mau main di rumah saja. Beberapa menit kemudian terjadilah dialog Barbie dan Teddy. Suatu negosiasi, dimana Barbie membujuk dan Teddy bersikukuh menolaknya….”. Dasar anak kecil,  apapun yang dilakukannya selalu membuatku tersenyum.

Aku beranjak dari kursi, melangkah ke kamar Jasmin,  mengambil boneka beruang besar dan kunaikkan ke sepeda, kemudian mendorongnya ke arah Jasmin. “Teddy, ayo kita ke sekolah, naik sepeda”. Aku menggerak-gerakkan tangan boneka beruang besar, seperti mengajak untuk naik sepeda. “Tunggu ayah…”. Jasmin, menaikkan kedua boneka nya ke atas sepeda. “Oh.., jadi Teddy maunya ke sekolah naik sepeda sama ayahnya”. Tangan Jasmin mengangguk-anggukan boneka Barbie.

“Nah, sudah sampai ke sekolah, ayo kita turun”. Aku menyandarkan sepeda ke dinding dan menurunkan boneka. Demikian pula dengan Jasmin.  “Ayah, gurunya lagi tidak ada, ayah jadi guru aja”. “Oke.. oke.., sekarang kita belajar melukis” aku memegang dua tangan boneka,  menuntunnya ke tempat papan tulis. Kemudian….,  aku ikut sama Jasmin masuk ke dunia imajinasi anak. Tentu saja, aku hanya berpura-pura. Tetapi Jasmin bermain imajinasi dengan jiwa raga sepenuhnya.

Satu jam berpura-pura menjadi guru dan tidak menjadi diri sendiri sudah membuatku kelelahan. Sedangkan Jasmin,  sama sekali semakin bergairah bermain “pura-pura”. Imajinasi, bagi anak merupakan dunia yang lebih luas dibanding dunia nyata. Ia lebih senang bermain di dunia imajinasi. “Anak-anak sekarang, waktunya istirahat ya..”, aku berdiri, menggeser kursi untuk duduk sejenak.

“Aduhhhh, sakit… kakiku terinjak kursi..”. Hah.., aku berdiri seketika. “Kaki Jasmin keinjak?..”aku spontan berdiri dari duduk. “Kaki Teddy keinjak..” Jasmin menggerak-gerakkan kaki boneka Teddy.  Walaahh…, kaki boneka toh. “Eh.., maaf, ayah tidak tahu, Sebentar ya, ayah ambil obat”, aku mengambil double tape dan menempelkannya di kaki boneka.

“Makasih, ayah Ayah, lain kali hati-hati ya..”, kepala Teddy kembali digerak-gerakkan. Teddy kemudian berjalan seperti tertatih-tatih, dibantu Barbie yang berusaha membopong pundaknya. FPiuhh.., lagi-lagi ia tidak bisa membedakan batas imajinasi dan nyata. Jasmin begitu mahir menjadi sutradara. Aku perhatikan, Teddy masih terlihat seolah-olah kesakitan.

Pagi yang indah.  Kopi ini memang luar biasa nikmat. Manusia memang kreatif.  Kenapa manusia mempunyai ide membuat minuman dari kopi yang pahit ini. Aku mengambil smartphone, untuk menghubungi teman yang akan gowes bareng. “Ayah jadi main sepeda?..”. Kata isteriku sambil memakai kaos olah raga.  “Jadi Mah,  mau whatsapp teman dulu”. Kataku sambil mengetik di HP. “Mamah mau senam?” Aku balik bertanya. “Mau, tapi kok belum ada woro-woro ya?.., mamah BBM teman dulu”.

Aku duduk memegang HP, begitupula isteriku. Sama-sama menghubungi teman lewat jaringan internet. Sekejap, aku sudah mengucap salam ke teman, menanyakan rencana gowes. Pesan berbalas pesan. Oh, ada notifikasi dari group media sosial.  Ku lihat sebentar dan ikut posting untuk membuktikan bahwa aku masih eksis. Wah.. ada link menarik nih. Ku klik dan aku pun kemudian menjelajah sebuah web. Wow…, ini ada tawaran discount.  Lihat sebentar ah, sial masih mahal juga. Ga jadi ah.

Aku masih duduk dengan tangan memegang HP, namun fikiranku sudah bergerak ke tetangga mengajak gowes,  ikut ngerumpi di group, membaca berita dan melihat barang-barang di toko online. Isteri ku pun demikian,  entah kemana fikiran dia beranjak pergi. Padahal,  aku berhadap-hadapan. Dunia maya menjadi dunia nyata dan dunia nyata menjadi dunia hampa. Ekspresi berupa senyum,  kecewa, tangisan lebih didominasi emo yang lebih hidup dibanding kenyataan sebenarnya. Jika Jasmin tidak bisa membedakan nyata dan imajinasi,  aku dan isteri ku mungkin lebih parah, tidak bisa memilah batas nyata dan maya.

“Ayahhhhh…”, Jasmin berteriak di luar rumah dan berlari masuk ke pintu rumah.  Aku tetap asik dengan HP. Hmmm…, ada notifikasi di BBM, ada yang kirim chat, kubuka dan kemudian ngobrol. Sekali anda membuka BBM, maka secara otomatis server BBM mengirim pemberitahuan berupa nuruf R yang menandakan telah dibaca dan jika tidak segera dijawab, anda dianggap tidak beretika. “Mamahhhh….”, anak ku kembali berteriak. Isteri ku pun tidak bergeming, asik dengan HP nya. Dunia maya telah menghisap fikiranku dan isteri dari dunia nyata.

Jasmin kembali berlari dan DUGGH, kakinya kesandung. Ia pun menagis meraung-raung. Aku dan isteri baru sadar dan menghampiri Jasmin. “Ayah…, ada bulatan hitam seperti titik besar di depan rumah..” kata Jasmin sambil terisak-isak. “Pasti imajinasi” fikir ku. Isteriku menggendong Jasmin dan aku keluar rumah untuk membuktikan kebenaran ucapan Jasmin.

Titik hitam itu ternyata benar. Aku terpaku, “Jasmin, dari mana asalnya titik hitam ini?…” tanyaku. Tidak ada jawaban, mungkin masaih menangis. Disamping titik hitam ternyata ada beberapa huruf besar. S E L E S A I.

Aku terdiam tak percaya. Ku lihat ke dalam rumah,  Jasmin dan isteriku tidak bergerak,  ia sudah menjadi patung. Dan, kakiku…oh kakiku menjadi sakit kemudian menjalar ka badan,  tangan dan kepalaku pun sudah terasa berat dan tidak bergerak.

Di batas manakah kuberada, mimpi, nyata, lampau, sekarang,  masa depan,  maya, imajinasi, bawah sadar, atau alam lainnya. Aku tidak mengerti. Apakah aku sekarang berpijak planet bumi, atau telah pindah ke planet  di galaxy lain. Tetap saja membingungkan. Yang jelas aku sudah tidak bisa bergerak.

Samar dan sekilas kulihat keatas, ada seseorang yang bergerak meninggalkan meja, Sepertinya,  ia baru membuat cerita bodoh ini. Dan akulah yang menjadi tokoh ceritanya. Cerita ini benar-benar tidak seru. Mimpi buruk dan berakhir dengan sebuah patung diriku di luar rumah dan patung anak dan isteri ku di dalam rumah,  teganya…..

Aku mungkin telah menjadi patung.  Tapi aku masih bisa berfikir “Hey. ..hey… Tuan dan Nyonya yang membaca tulisan ini, lanjukanlah cerita ini. Ubahlah cerita bodoh ini menjadi cerita cerdas. Aku tak sudi menjadi tokoh dari penulis gadungan. ..”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: