Keberadaan


“Mas, masih ingat aku ga, kita satu kelas di………”, kataku sambil mengulur tangan menawarkan jabat tangan. Ia tertegun, mencoba mengingat dan gagal.  “Sepertinya pernah ketemu…, dimana ya….”, berusaha ramah dan menerima jabat tangan. Sebelum obrolan berlanjut,  ia beranjak dari kursi ke luar kantin dan minta maaf karena sudah ditunggu temannya.

Kejadian itu mengusik dan mengecewakanku hingga menimbulkan rasa sedih, tersinggung dan menyentilku sampai ke pinggir kehidupan. Bukti bahwa ada dikotomi ada dan hilang, eksis dan lenyap, pahlawan dan penonton. Sialnya aku berada di pinggir sehingga yang di pusaran lupa keberadaanku.

Kawan lama itu sama sekali tidak meminggirkanku. Ia memang lupa. Yang salah adalah aku tidak membangun keberadaanku sehingga aku berada di memori kawan tersebut. Tapi apakah harus seperti itu?..  Hari berganti dan memori datang kemudian menghilang dengan sedikit kenangan manis dan pahit yang tertinggal. Rupanya tidak ada kenangan luar biasa yang aku simpan di memori otaknya, hanya hinggap sejenak dan terbang. Aku terlampau biasa. Bahkan sangat biasa sehingga tidak layak untuk diingat.

Kita hidup dalam kompetisi untuk menjadi top dan hit sehingga munculah box office,  rating,  top brand, ranking dan lainnya. Ketika anda tidak mampu mencapai top of mind. Anda harus rela dianggap tiada. Seperti prinsip ekonomi, bagaimana dengan sumber daya tetbatas kita bisa memenuhi keinginan yang tidak terbatas. Memori yang terbatas tidak mungkin mampu mengingat informasi yang tidak terbatas.

Lalu, apakah kita harus menjadi luar biasa, top, dan berada di pucuk kehidupan agar kita dapat manghujamkan kenangan ke memori otak semua orang. Ah…., pertanyaan ini terlalu jauh. Cara terbaik adalah menjadi diri sendiri dan melakukan hal yang menyenangkan. Orang ingat atau tidak kepada kita hanyalah impact dari apa yang kita lakukan dan kenapa kita harus memperdulikannya. Idealnya anda bahagia melakukannya dan pekerjaan itu berguna bahkan bisa membahagikan orang banyak, wow pekerjaan apa itu?..

Syukurlah, ada yang berani meragukan paradigma ekonomi. Bahwa demokratisasi bukanlah tentang politik semata tetapi juga produk. Kita mengalami pergeseran dari konsumerisme ke produserisme. Tidak ada yang menghalangi untuk berproduksi.  Semua orang terinspirasi untuk mencipta. Inilah ekonomi Long Tail dengan yang ditulis oleh Chris Anderson dengan kelimpahan dan kematian hukum yang dicetuskan Vilfredo Pareto.

Saya sadar, saya tidak ada dalam posisi hit ketika bergaul dengan teman tersebut sehingga tidak menjadi perhatian utama di bagian head (kepala) pada fokus perhatiannya. Saya hanya berada di bagian tail (ekor) perhatiannya dan ketika perhatian hanya pada head maka ekor menjadi terabaikan.

Anda yang mungkin senasib dengan saya yang berada dalam ekor kurva permintaan tidak perlu kecewa. Mari kita lihat Teori Long Tail, “Kultur dan ekonomi kita terus bergeser menjauh dari fokus terhadap produk-produk hit yang relatif sedikit (pasar utama) di bagian head pada kurva permintaan, dan beralih ke pasar-pasar khusus (niche) yang banyak sekali di bagian Tail”. So…, tetaplah jadi diri sendiri, andaikan anda tidak berhasil di head toh tail pun mempunyai pasar yang semakin membesar.

Ketika anda suka dengan selfie gaya alay, teruskanlah. Ketika anda pemalu, berdiri di pojokkan dan hanya menulis menyendiri di ruang gelap, tetap menulislah. Senang menyannyi dan menari di hiruk pikuk keramaian. Teruslah menghibur orang. Kita menjalani kehidupan dan melakukan apa yang kita senangi sehingga roda berjalan dalam poros masing-masing.

Aku sejenak berhenti merangkai huruf dan bertanya untuk apa terus menulis kata-kata kosong ini. Bukankan lebih banyak pekerjaan lain yang lebih berguna. Apakah tulisan ini hanya sebuah upaya eksis. Sesuai ungkapan “saya menulis saya ada”. Tulisan ini seperti kegenitan para alay ketika selfie dengan muka dilonjongkan dan mata dibelalakkan. Tidak perlu lah mencari pembenaran bahwa tulisan itu lebih intelek dari photo selfie. Sama saja. Tidak perlu pula untuk menyalahkan. Toh,  semua orang melakukannya dengan model dan dosis yang berbeda.

Selfie gaya alay merupakan sebuah pemberontakan  mainstream atas keindahan photo yang absolut dikuasai para suhu photography. Mulai meracau lah aku dan semestinya tulisan ini dihentikan. Tidak, aku tidak akan berhenti menulis, tak peduli bermanfaat atau tidak nya tulisan ini, tidak peduli eksis dan tidaknya keberadaanku….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: