Biarlah Barang ini Mahal (BBM)


Harga bahan bakar untuk kendaraan bermesin kembali naik, membengkak kan biaya transportasiku. Premium yang 1 minggu bisa dibayar dengan Rp20 ribu untuk sepeda motor ku, kini bisa Rp25 ribu. Ongkos Kopaja 502 yang biasanya Rp3 ribu ikut menyesuaikan menjadi Rp4 ribu. Syukur lah tiket kereta Commuter Line tetap Rp2 ribu. Biaya penitipan motor malah mendahui naik menjadi Rp4 ribu dari Rp 3 ribu. Hmm…, siapalah pelaku kenaikkan BBM yang membebani hidupku.

Aku tidak bisa melawan kenaikan bahan bakar ini. Yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan penerimaan dan pengeluaran. Tentu ada sedikit kemarahan karena keterbatasan wawasan dan pola fikir sempit yang aku miliki. Lalu apa hubungan nya bahan bakar ini dengan wawasan.  Yang kubaca dari media masa, bahan bakar ini disubsidi oleh negara dan para pembuat polusi lah yang menikmati nya. Pemilik kendaraan bermesin  yang merasa sebagai kalangan menegah  dengan rasa bangga dan sedikit keangkuhan dan pecicilan membakar uang subsidi itu dan membuangnya secara sembarangan.

Pemberi subsidi tentulah tidak bermaksud membuang uang subsidi. Bahan bakar merupakan barang strategis, serupa dengan beras. Bahan bakar ini menggerakkan anak ke sekolah dengan sepeda motor,  bus sekolah dan mode transportasi lain. Tapi…, sepeda juga sebenarnya bisa. Tapi tentu dengan alasan keamanan dan kecepatan, kendaraan bermesin itu lebih efektif dan efisien dibanding sepeda dari sudut manapun. Seperti biasa kita lebih senang berfikir pendek. Mungkin menjadi berfikir kreatif untuk menjadikan proyek studi banding demi alasan kenapa banyak negara eropa yang jauh lebih kaya, anak-anaknya bisa sekolah dengan bersepeda.

Bahan bakar murah juga membantu pengusaha kecil untuk membuat produk dengan biaya rendah sehingga mampu bersaing. Ini alasan subsidi yang sangat populer.  Sangat wajar mereka mendapat subsidi. Hampir sulit untuk membantahnya. Bahan bakar murah sudah seperti zat addictive yang membuat orang kecanduan. Siapapun yang menaikkan bahan bakar ini akan menjadi public enemy. Dan…. cara mudah menjadi pahlawan jika anda menolak kenaikkan bahan bakar dengan dibumbui isu nasionalisme, rakyat kecil,  dan anti asing. Lagipula hitung-hitungan makro ekonomi masih banyak yang susah menelannya, sedikit pengetahuan yang anda miliki bahwa kekayaan tanah air Indonesia untuk digunakan sebesar-besarnya  bagi kemakmuran rakyat lebih mudah dipahami. Bukankah ini lahan luas bagi opportunis untuk menjadi pahlawan.

Pahlawan pembela orang kecil,  itu sudah jelas. Bahkan tanpa sadar, menjadi pahlawan para penyeludup bahan bakar yang memanfaatkan perbedaan harga antara harga bahan bakar minyak dalam negeri dengan luar negeri. Ada yang bilang karena pengawasan yang lemah. Tapi saya lebih setuju ilmu ekonomi bahwa penyelundupan ada karena ada disparitas harga. Harga yang sama menihilkan penyelundupan sehingga kita tidak perlu banyak cakap tentang pengawasan.

Propaganda yang mengatakan bahwa kita negara kaya raya dengan minyak yang melimpah juga menina bobokan kita. Kita tertidur dan tidak sadar betapa mahalnya ongkos membuat bahan bakar ini. Bahan bakar itu ada di tanahku dan aku layak menghamburkannya.

Syukurlah, masih ada orang berwawasan luas, berfikir jernih dam melihat kedepan. Bahan bakar ini sudah tidak selayaknya disubsidi. Ratusan trilyun subsidi ini bisa untuk membuat jalan yang mulus, pelabuhan yang mendekatkan pulau-pulau, mendirikan sekolah dan pembangunan lainnya. Dan… bukankah jika ini terlaksana bisa membuat ongkos transportasi turun dan barang menjadi murah.

Kehadiran negara bukanlah dengan mensubsidi hal konsumtif yang mudah dibuang tapi dengan mensubsidi barang produktif. Orang tua yang baik bukanlah hanya menjejalkan makanan ke mulut anaknya secara berlebihan tapi juga menyekolahkannya dan memberi tantangan dan sedikit suasana sulit untuk merangsang daya kreatifitas dan biarlah anak belajar menghadapinya.

Saya masih termenung di bis ini, memandang pengendara sepeda motor yang masih bergerak. Bukti bahwa mereka yang mewakili golongan bawah sudah imun dengan naiknya bahan bakar. Pengendara mobil yang mewakili kelompok menengah pun masih membawa mobil. Semua hiruk pikuk ini digerakkan oleh bahan bakar.

Saya berfikir ekstrim, bahan bakar ini Sebaiknya tidak disubsisi tetapi dikenai iuran angkatan masal dan infrastruktrur khusus sepeda sehingga pedestrian lebih lebar jalan khusus sepeda bertambah dan angkatan masal yang nyaman. Kita menjadi tidak sudi membeli bahan bakar yang mahal dan merusak lingkungan.

Ah, sudah lah, kantor sudah dekat. Aku turun dari kopaja dan menutup hidung supaya asap yang keluar dari knalpot kendaraan bermesin hasil pembakaran bahan bakar bersubsidi tidak masuk ke hidung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: