Kenapa aku harus sekolah?……


“Kau, sudah 6 tahun. Sebentar lagi sekolah”. Sang ayah memandang anak dengan penuh rasa sayang.  Berbicara dari hati yang terdalam. Ia memegang pinggang sang anak dan mengangkatnya ke atas meja sehingga muka anak dan ayah dalam keadaan sejajar.

“Sayang, kau akan belajar
banyak hal yang menyenangkan di sekolah, mendapat ilmu dan akan mempunyai banyak teman”, ucap ayah dengan dua tangan memegang pipi anak dengan mesra.

“Tapi aku ingin bermain ayah. Aku masih senang main rumah-rumahan sama Sisy, Luwi dan Panji”. Ada rasa keengganan dan kekhawatiran. Tangan anak memegang dua tangan ayah yang masih memegang pipi anak.

“Kau akan tetap bermain,  sayang. Bahkan lebih banyak permainan. Di sekolah, kau akan mempunyai lebih banyak teman, jadi pasti akan lebih banyak permainan dengan teman barumu”. Sang ayah menatap mata anak dengan lembut namun tajam seperti berusaha melihat sisi terdalam lubuk hati anak.

“Aku hanya ingin bermain rumah-rumahan, ayah. Aku sedang membuat cerita. Panji menjadi pangeran, Luwi menjadi nenek sihir dan Sisy menjadi seorang rakyat biasa. Aku sedang mencari teman-teman lainnya”. Anak tetap ngotot dengan pendiriannya. Main dan main dalam fikirannya.

“Kalau begitu, kau bisa mencari teman di sekolah untuk mencari pemainnya, oke….” ayah bertanya dengan sedikit mengiba, diiringi anggukan anak.

Ayah tersenyum puas, berhasil membujuk anak dengan cara yang menyenangkan anak. Ia melepas tangannya di pipi anak kesayangan. Mundur dua langkah seperti telah mundur sejenak dari peperangan yang telah dimenangkan. Ayah berbalik badan, siap meninggalkan anak di ruang tengah rumah.

“Tapi aku tidak mau ada PR, tidak mau belajar matematika. Aku hanya ingin belajar bahasa yang banyak cerita dan gambarnya”. Perang diplomasi ini ternyata belum usai. Anak tetap bertahan sampai titik darah penghabisan.

Ayah berhenti sejenak, berfikir keras.  Anak ini semakin hari semakin mempunyai pendirian sendiri dan menjadi unregulated.  ia membiarkannya bermain karena demikianlah dunianya. Tapi anak juga harus tahu bahwa semua hal di dunia ini ada aturannya. Demikian juga sekolah. Jika sekolah memberikan PR tentu harus dikerjakan.

Ayah membalik badan, kembali menatap anak. “Sayang, PR kan hanya sedikit.  Jika kau mengerjakan PR, kau menjadi pintar. Kau bisa membaca sehingga kau bisa membuat cerita, drama, film yang lebih seru”.

“Jadi nanti, aku bisa baca ya.., ayah”

“Pasti bisa sayang kalau kau sekolah”

“Berapa lama aku bisa baca?”

“Satu tahun atau ketika kau berulang tahun yang ke-7”

“Jadi, setelah ulang tahun,  aku bisa berhenti sekolah ya…”

Ayah terdiam. Duduk di kursi memandang anak yang masih duduk di atas meja. Fikirannya berkecamuk. Bagaimana masa depan anak ini jika hanya lulus kelas 2 SD. Lulusan kuliah saja susah mencari kerja.  Andaikan mau usaha pun apa yang mau dijual.

“Sayang,  percayalah….jika kau sekolah, kau bisa menggapai cita-cita dengan lebih mudah”

“Tidak ayah. Aku hanya ingin menulis. Setelah aku bisa membaca. Aku akan keluar dari sekolah dan menulis semuanya. Aku akan menulis cerita,  membuat drama bahkan film. Aku juga ingin menulis alam ini. Imajinasi ku tidak mau terpenjara di sekolah”

Ayah menatap anak dengan kemarahan yang mau meledak. Dari mana anak ini bisa berbicara seperti di sinetron.  Ucapannya benar tapi kita hidup dalam dunia yang tidak ideal. Sekolah itu ideal, tapi sistem di sekolah seperti pabrik dimana anak sebagai bahan baku dan kemudian meluluskan anak dengan kebanggaan sebagai manusia siap pakai.

Sekolah juga menjadi ajang untuk aktualisasi keberadaan para Dewa. Dewa Samudera menginginkan semua murid memahami struktur, molekul air, memanfaatkan dan menguasainya. Dewa matahari meminta semua guru mengajar energi matahari untuk kebaikan alam. Semua dewa ingin memberi sumbangsih. Tidak peduli apakah peserta didik memerlukan apa tidak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: