menulis perjalanan 4


Perjalanan yang kulalui bagai untaian makna nyata kebhinekaan, potret mini Indonesia meski semu dan bias. Setiap hentakan langkah, deru mesin motor, video live dari jendela kereta adalah sebuah rangkaian cerita yang amat sulit bagiku untuk menuliskannya ke dalam beberapa kata yang terbatas. Lain dengan para seniman yang mampu menterjemahkan ribuan view ke dalam beberapa kata singkat. Hebatnya lagi, seniman mampu menulis sebuah kisah singkat, view biasa menjadi tulisan tanpa akhir yang menarik dan addicted.

Tentu saja, aku belum mampu seperti itu. Tulisan ini hanya didorong dengan keyakinan bahwa semua hal berhak untuk exist, terdokumentasi dalam bentuk apapun. Himpunan kata, photo, lukisan menjaadi informasi sampah bagi sebagian orang dan mungkin berguna bagi yang lainnya. Andaikan belum sampai ke level itu pun, setidaknya syahwat menulis sudah tersalurkan dengan wajar.

Ketika langkah kaki melangkah di pagi hari. Langkah ini bukanlah sebuah langkah sendiri. Jutaan orang melangkah di pagi hari dengan harapan yang membumbung tinggi. Pagi adalah awal aktifitas yang paling sibuk. Ketergesaan dan tergopoh-gopoh bahkan berlari. Antrian ke kamar mandi, sarapan hanya beda satu huruf dengan harapan dan berlanjut ke tempat beraktifitas di tengah laju waktu yang tidak mengenal ampun. Kesibukan lebih parah terjadi pada hari Senin sehingga jutaan orang mengutuknya, “I Hate Monday”.

Aku sebenarnya membenci motor ini. Ia individualis (bisa sih muat 2 orang), penyumbang polusi dan rawan kecelakaan. Motor juga menjadi sumber makian pengguna jalan. Menyerebot trotoar dan sering menggunakan ruang sempit untuk menyalip meski berbahaya. Apa daya, public transportation belum layak. Mau beli rumah di pusat kota belum mampu. Pada akhirnya, aku mencintai motor. Damn, I love it.

Potret pertama setelah keluar rumah adalah gardu satuan pengaman (satpam). Gardu satpam, tidak hanya tempat berlindung satpam dari terik panas dan hujan. Tapi juga simbol bahwa komplek perumahan ini aman karena ada satpam atau bukti bahwa wilayah itu tidak aman sehingga perlu ada pos satpam. Tergantung dari angle mana anda melihatnya.

Sebuah kompleks perumahan terasa tidak lengkap jika tidak ada pos satpam. Wajib hukumnya. Jika masih merasa belum aman, dibuat beberapa pos alakadarnya. Ruang hijau dan daerah resapan air tentu
Menjadi prioritas dengan skala rendah dibading rasa aman. Dengan alasan rasa aman dan overconsumption, cacing-cacing tanah dan rumput serta mahkluk hidup lainnya dibasmi secara tidak langsung karena manusia terlalu kuat secara temporer dibanding mahluk tersebut. Pada akhirnya, hukum alam lah yang berbicara. Air mengalir ke tempat rendah. Tak peduli, apakah di tempat rendah itu orang baik atau orang jahat. Ozon semakin menganga, tak peduli, apakah pelaku pelepas karbondioksida itu orang baik atau orang jahat. Ah, sudahlah…

–continued–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: