memahami beneficial owner 1


Kata google translate, beneficial itu artinya bermanfaat, berfaedah, berguna sedangkan owner itu pemilik, empunya, tuan, malik. Tapi Om Google tidak mau mengindonesiakan beneficial owner, mungkin dikiranya beneficial owner sudah jadi bahasa Indonesia. Jadi arti bebasnya pemilik manfaat, pemilik ntu barang

Jika ingin tahu arti benarnya, bisa dilihat di UU perubahan PPh terakhir no. 36 tahun 2008 Pasal 26 ayat 1a yang bunyinya “negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan usaha melalui BUT di Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah negara tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak luar negeri yang sebenarnya menerima manfaat dari penghasilan tersebut (beneficial owner). Pada penjelasan pasal 26 ayat 1a bahkan diperkuat lagi, negara domisili tidak hanya ditentukan berdasarkan Surat Keterangan Domisili, tetapi juga tempat tinggal atau tempat kedudukan dari penerima manfaat dari penghasilan dimaksud. Ini hampir sama dengan english trust law dimana beneficial owner didefinisikan sebagai pihak yang memenuhi kriteria sebagai pemilik tanpa adanya keharusan pengakuan kepemilikan dari sudut pandang hukum (legal entity).

Jika ingin memahami pengertian beneficial owner, sebaiknya membaca SE-04/PJ.34/2005, SE-03/PJ.03/2008 dan PER-62/PJ/2009. Dan kalau mau memehaminya dengan lebih luas lagi silahkan berkunjung ke website OECD (organization for Economic Cooperation and Development). Bahkan anda bisa browsing untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan beneficial owner.

Apa yang ditulis disini merupakan interpretasi saya yang mungkin keliru tentang beneficial owner. Apa yang ditulis ini hanya sebuah usaha memahami dengan menuliskan bukan karena paham lalu menuliskannya.

Pemahaman beneficial owner diperlukan karena berkaitan dengan tax treaty dan bagi warga negara Indonesia sehubungan dengan pelaksanaan UU PPh Pasal 26. Dimana, tarif tax treaty umumnya lebih kecil dari 20% sebagaimana diatur dalam pasal 26 UU PPh. Contohnya tax treaty Indonesia Amerika Serikat pasal 12, dividen dikenakan tarif maksimal 10%, bukan 20% sebagaimana diatur dalam UU PPh Pasal 26.

Dalam SE-04/PJ/.34/2005, Jenis penghasilan yang diterima dipersempit hanya menjadi dividen, bunga, royalti. Ini lebih sempit dari objek PPh pasal 26 yang juga terdiri dari sewa, imbalan dari jasa, hadiah, pensiun, premi swap dan keuntungan karena pembebasan utang.

Kata kunci “yang sebenarnya” dalam beneficial owner menegaskan bahwa Certificate of Domicile (COD) tidaklah cukup karena perlu kondisi ril, bukan hanya formalitas belaka. Dengan demikian meskipun mempunyai COD jika perusahaan berbentuk special purpose vehicle, conduit company, paper box company, pass through company, dan sejenisnya tidak dapat dikenakan tarif sesuai tax treaty. Dalam PER-62/PJ/2009 diperjelas lagi, agen, nominee dan conduit company tidak termasuk dalam pengertian beneficial owner.

–continued–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: