menulis perjalanan 2


Bahagia itu mudah jika kita jeli dan peka menangkap setiap butiran hal yang meskipun sederhana bisa membuat anda feeling better bahkan sedikit senyum. Ah, sok bijaksana kali aku ini. Minum air teh manis hangat itu membahagiakan dan menyenangkan. Bahagia itu hilang ketika expectation mendapat teh manis hangat tapi malah mendapat kopi hangat bahkan air putih. Inilah perlunya kecerdasan merubah harapan sehingga tetap enjoy. Bah, sudahlah.

Rute perjalanan setiap hari itu menyeberangi selat dan teluk, mendaki bukit berbatu dan gunung nan tinggi, menerabas hutan belantara yang belum terjamah, menyusuri ilalang dan masuk ke beberapa gua peninggalan zaman purba dilanjutkan dengan menunggang kuda di jalanan berbatu di pinggiran jurang nan terjal samping lautan samudera. Tentu saja ini sebuah kebohongan.

Sebelum naik motor, aku harus mempersiapkan aksesoris keamanan dan kenyamanan. Helm, ini wajib hukumnya. Helm pun harus full pace, bukan half face, helm cetok atau helm yang biasa dipakai para pekerja bangunan atau buruh pabrik. Helm ini mampu melindungi kepala dari benturan tetapi tidak akan mampu menahan ban roda 4 jika ia secara kejam menabrak atau menggilas apapun di jalanan.

Jalan bukanlah sarana untuk memperlancar arus orang dan barang semata. Ia juga tempat show off kekayaan dan show off kekuasaan juga keegoisan. Market pengguna jalan telah berhasil dipolarisasi produsen automobile menjadi segmented dan terklasifikasi. City car, mobil anak muda, entry level, premium dan pengkastaan lainnya. Jika anak muda, mobilnya sedan buntung. Orang kaya harus memiliki Mercedez Benz. Mobil merupakan representasi diri. Overconsumtion telah melenakan bahkan meracuni sisi suci kemanusiaan.

Bagi penggenggam kekuasaan, jalan publik bisa disulap menjadi jalan milik sendiri. Sirine dan voojrider salah satu instrumennya. Kalau mobil pemadam kebakaran, ambulance, VVIP wajarlah. Celakanya, siapapun bisa menjadi VVIP dengan ketentuan yang terkadang membingungkan..

Kembali ke helm. Aku membelinya sekitar 1 tahun yang lalu dengan harga sekitar 175 ribu. Mahal juga. Tapi terasa murah jika dibanding helm yang dibeli adik seharga 350 ribu. Aku mau pingsan ketika teman cerita bahwa harga helmnya ditebus 1 juta lebih. Begitu vitalnya helm sampai seharga UMR. Rupanya teknologi helm juga berkembang pesat.

Helm sekarang sudah ada yang menerapkan Vision Protection System yang mampu mengurangi sinar ultraviolet sampai 40% dan cepat mengusir embun. Bahkan ada helm yang memiliki airbag. Ukuran helm, ventilasi dan tali memiliki peran yang sangat vital.

Perlengkapan lainnya sapu tangan untuk menutup angin yang genit menggerayangi leher. Tidak cukup sapu tangan, seharusnya slayer. Ini tidak ada dalam teori berkendara seperti helm. Tapi bagiku ini sangat ampuh untuk melindungi leher dari angin, hidung dan mulut dari debu jalanan dan knalpot.

Oke, cukup. Saatnya, bismillah pergi kerja.

–Continued–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: