menulis perjalanan 1


Bosan, jemu, dan membelenggu. Itulah perasaan ketika menapaki perjalananku setiap hari. Rutin dan hampir tidak ada variasi. Sebuah perjananan wajib dan tanpa kecuali. Sebuah perasaan pelangi, campur aduk dan tidak jelas, tanpa akhir. Memang terkadang ada drama, tapi lebih sering drama horror dan sedikit violence. Kendaraan terjatuh atau bersenggolan dan binatang yang berlompatan keluar dari mulut para pemarah.

Inilah perjalanan yang harus dijalani ke tempat dimana, katanya mengabdi, katanya mencari sesuap nasi atau mencari nafkah anak isteri, atau mencari jati diri, atau aktualisasi diri, atau mencintai hal yang kulakukan, atau sedikit berlagak, bahwa inilah passion, cinta yang sudah merasuk jauh ke dalam sumsum tulang, mengalir bersama aliran darah. Perseta* dengan semua istilah aneh itu.

Motorku, sungguh setia. Ia tidak berlari ketika lupa memandikannya, mengantarkanku dalam sebuah perjalanan. Motor ini mungkin bisa langsung mengantarkan langsung ke alam ghaib bahkan surga atau neraka. Minim safety. Apa boleh buat, moda transportasi lain tidak mampu menandingi kelebihannya. Sepeda, sehat tapi aku harus terbangun di malam gelap gulita. Mobil, hanya membakar habis bahan bakar di belantara kemacetan yang secara konyol disubsidi atas nama popularitas dan dengan pongah melawan hukum Tuhan yang bernama market mechanism dan mengabaikan invisisible hand dalam mencapai titik equilibrium.

Ketika matahari mulai mengintip, malam nan gelap beranjak pergi, sang surya mulai menerangi hari, aku tergopoh-gopoh melihat jam. Sebuah ketertindasan dan keterpaksaan. Seolah-olah aku belum merdeka. Kata pahlawan, ini sebuah kedisiplinan dan kewajiban. Kata ahli philsafat, inilah saatnya anda meresapi makna hidup. Beginilah hidup. Kata agamawan, inilah saatnya bersyukur kepada pencipta karena masih mendapat karunia untuk bernapas. Yang jelas, aku harus bangun.

Isteriku yang cantik dan pengertian lebih sering terbangun lebih dahulu untuk membuat teh manis hangat yang membangunkan sel-sel tubuh juga menyediakan sarapan untuk bahan bakar beraktifitas. Ia tidak mengeluh. Mengerjakan sesuatu untuk kepentingan suami. Terkadang lupa untuk kepentingan dirinya. Time line yang sempit. Kebutuhan suami dan 2 bidadari kecil di pagi hari merupakan jam tersibuk di dunia.

Bidadari kecilku masih bermain dalam alam bawah sadar, berimajinasi dan bermimpi. Bidadari yang satu lagi terantuk-antuk bangun. Ia pun dipaksa oleh kewajiban bernama sekolah. Sekolah dimana ia harus menjejalkan beberapa kalimat ke otak yang haus akan pengetahuan. Meski kadang tidak dimengerti, kenapa harus mempelajari sesuatu yang diragukan valuenya.. Tapi ikut mainstream aja, sekolah membuat anak menjadi berguna bagi dirinya, dunia dan akhirat. Klise tapi yang memang demikian umumnya.

— continued–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: