janji kampanye biaya berobat gratis itu menyesatkan dan membahayakan


“Kita tentu aja senang kalau berobat gratis, jadi kita harus pilih Tuan Pulan menjadi wedana yang menjanjikan biaya berobat gratis, masak orang miskin tidak boleh sakit. Negara itu mestinya menjamin kesehatan warganya”

“Lu pernah mikir ga, berapa biaya berobat?, siapa yang bayar biaya rumah sakit, siapa yang bayar dokter, siapa yang bayar obat, siapa yang bayar gedung rumah sakit mewah ntu?”

“Ya wedana itu, makanya ia mau menjanjikan biaya kesehatan gratis”.

“Heh, lu kira, wedana ntu punya uang se ember apa?. Lu lihat aja ntu calon wedana kita ini, iuran buat bayar jalan di gang depan rumahnya aja belon kebayar”

“Otak lu aja yang cetek, yang bayar itu, maksud gue ya APBD, lu tahu ga apa itu APBD?”

“Halah sok tahu luh, lu pernah lihat angka APBD, bisa jebol tuh APBD bayar biaya rumah sakit”

“Makanya calon wedana ini pasti sudah menghitung, berapa alokasi biaya buat biaya kesehatan warganya”

“Lu tanya sendiri aja deh ke calon lu, berapa biaya kesehatan untuk jutaan warganya, gue yakin ga bakal ngerti”

“Bodo amat, kalau janji harus ditepati”

“Nah ini nih, kenapa si Amat jadi bodo. Yang tahu biaya kesehatan per orang itu orang asuransi. Khususnya asuransi kesehatan. Di Asuransi itu ada aktuaria yang bisa menghitung biaya kesehatan seseorang”

“Sok tahu luh, maksudnya gimana, emang aktuaria itu Tuhan, bisa tahu berapa biaya kesehatan seseorang di masa yang akan datang”

“Gini aja deh, keep it simple. Orang yang suka minuman keras, begadang, dan merokoknya, kemungkinan sakit nya lebih besar dibanding orang yang hidup teratur. Orang yang suka berolahraga futsal, kemungkinan cederanya lebih besar dibanding atlet catur”

“Ah pemikiranmu terlalu rumit. Buktinya, ada kawedanaan yang bisa berobat gratis. Gue lihat sendiri di media masa”

“Masalahnya ntu orang sakit apa?. Biaya berobat sakit perut itu beda jauh sama biaya operasi jantung”. Dokter jantung juga meski dibayar mahal karena keahliannya, belum lagi harga peralatan rumah sakit yang muahalnya minta ampun”. Lu tahu ga, biaya operasi jantung, kanker otak bisa menghabiskan biaya ratusan juta. APBD kita bisa habis”

“Heh, calon wedana kita itu lebih pintar dari lu. Pasti dia mengalokasikan APBD untuk bayar premi asuransi. Jadi kalau sakit yang bayar ya perusahaan asuransi. Jadi rasional dan cerdas dong”

“Sekarang, gue tanya, berapa besar premi per orangnya. Terus dikalikan dengan jumlah penduduk. Modar dah tuh APBD. Dan inget ya, besar premi asuransi kesehatan tergantung dengan kesehatan seseorang. Semakin besar resiko sakit semakin besar preminya. Masa orang mabok disamakan dengan orang sehat”

“Ah, terserah elu dah, pokoknya gue sih pilih calaon wedana yang mampu membiayai kesehatan warganya”

“Sekarang gini aja, mending hidup sehat, apa mending hidup sakit tapi dibayarin kalau sakit”

“Pertanyaan lu itu bodoh, ya mau hidup sehat dong. Tapi kalau sakit dibayai hehehe”

“Nah kalau gitu, kenapa tidak berfikir lain. Daripada dana APBD buat bayar premi asuransi, kan mending buat sarana olahraga atau fasilitas yang membuat warganya sehat. Biaya kesehatan diserahkan ke perorangan. Kalau mau sehat ya hidup sehat kalau takut sakit bayar premi asuransi dan biarlah orang asuransi yang jauh lebih mengerti berapa biaya kesehatan seseorang”

“Ah elu tuh, kayaknya agen asuransi”

“Biaya berobat gratis itu, seperti mengajarkan hidup tidak sehat dan sejorok apapun elu, kalau sakit ditanggung negara. Fikiran yang edan”

“Hmmm, elu tuh berburuk sangka terus, dosa tahu!!!”

“jiahhh”


One response to “janji kampanye biaya berobat gratis itu menyesatkan dan membahayakan

  • Sandy

    Berobat gratis, sekolah gratis, dsb dsbnya yang umumnya diperuntukkan bagi kaum tidak mampu selalu jadi janji kampanye, lalu siapa yang mesti bayar? tanpa niat merendahkan, janji ini masih ampuh merayu kalangan tidak mampu untuk memilihnya. Secara keadilan, semestinya semua golongan berhak mendapat perlakuan yang sama. Kegratisan ini bisa jadi bom waktu sama seperti subsidi BBM. Setelah masa jabatan berakhir, dana tidak cukup untuk menanggung beban biaya, bagaimana nasib kegratisan ini? Lebih bijaksana rasanya bila kegratisan ini yang ibarat ikan, digantikan dengan ‘sesuatu’ ibarat pancing yang bisa meningkatkan pola pikir, taraf hidup & kesejahteraan kalangan tidak mampu dan atau semua kalangan. Seperti orang tua yang memilih memberikan ilmu & amanah untuk anaknya daripada harta berupa materi. Rasanya lebih cerdas memilih pemimpin yang memberikan pancing daripada pemimpin yang memberikan ikannya saja, karena bagaimana nasib kita seandainya pemimpin itu sudah tiada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: