follow my fingers


Aku tidak yakin untuk mampu menulis masalah teknis. Mungkin mampu, tapi sering ada rasa ragu dan gamang akan kebenarannya. Menulis harus dibuat dengan sebenar-benarnya dan selogis-logisnya. Jika ini suatu keharusan, aku tidak yakin mampu menulis. Tulisan sering berada dalam kondisi keterbatasan dan perasaan waswas akan nilai dari sebuah tulisan. Beberapa paraghrap berhasil dibuat dan seringkali ingin mendeletenya. Keputusan untuk mempublish atau hanya dibiarkan teronggok dalam phone draft bahkan mendeletenya ternyata memerlukan keberanian yang luar biasa.

Google, bing, dan search engine lainnya memberikan pintu yang sangat luas untuk akses ke wikipedia, portal, blog dan informasi lainnya yang bertebaran di internet. Aku bisa meminimalkan kesalahan tapi aku harus mengorbankan waktu untuk browsing dulu sebelum menulis dan mencari literatur yang relevan. Mungkin sepadan. Kualitas berbanding lurus dengan waktu.

Beberapa orang dikarunia kecerdasan menulis diatas rata-rata. Mampu menulis dengan kualitas tinggi dalam waktu yang singkat. Beberapa orang menulis dengan hati dan cinta dan menuangkannya dalam tulisan dengan cara yang mengagumkan. Mereka mampu menyandarkan hidup dari tulisan.

Sayang, aku belum masuk dalam golongan tersebut. Aku masih dalam kategori belum mampu. Aku menulis hanya untuk membunuh waktu yang tidak semestinya terbuang, memulihkan sel otak yang sering tertidur ketika tidak dipakai dan memaksa mata untuk membaca. Membaca menjadi aktifitas yang kurang menyenangkan ketika tidak ada kejelasan mana bacaan yang perlu dan mana bacaan sampah. Menulis menjadi alat ampuh yang menarik ketika malas membaca.

Teknik menulis, tips menulis, pelatihan menulis sudah tersedia di depan mata. Tapi teori lebih mudah dibaca daripada dipraktikan. Praktik menulis lebih mudah dilakukan namun dengan kualitas seadanya daripada teori yang menjemukan. Jika terus menerus memperdebatkan teori dulu apa praktik dulu maka hasilnya sebuah kertas kosong atau file dengan dengan kapasitas dibawah 10 kb. Cara terbaik bagiku adalah dengan mengikuti kemana jari mengetuk ngetuk keypad atau keyboard. Follow my finger.

Ini seperti sebuah dilema atas pilihan yang aneh. Pintar dulu baru menulis atau menulis dulu untuk menjadi pintar. Kita terkadang berada dalam suatu ke-tidak-ideal-an. Kapan aku akan mencapai level pintar?. Ketika waktu terus bergerak maju dan jumlah umur terus bertambah, aku sering merasa menjadi lebih bodoh dari hari-hari kemarin.

Akhirnya, aku membiarkan jari bergerak liar dan terkadang sok tahu menulis hal-hal yang diluar kapasitas otak. Ini bukan pilihan terbaik. Tapi ini sebuah pilihan yang lebih baik dibanding mengikat jari-jari karena menunggu hal ideal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: