subsidi itu dapat membunuh Supply


“Di beberapa daerah, antrian solar mengular panjang. Di beberapa daerah lainnya, warga pusing 7 keliling karena premium langka. Ini terjadi karena Pemintaan atau Demand (D) naik tetapi Penawaran atau Supply (S) tetap. Hukum ekonomi, jika D naik dan S tetap maka harga akan terkerek naik. Hebatnya harga tidak naik, namun orang menderita karena kelangkaan BBM”

“Permasalahannya kenapa S tidak naik?. Jika ada bencana atau perang, ​​‎​​oke lah. Tapi ini benar-benar dalam keadaan damai. Terkadang ada spekulan bermain dengan hukum ekonomi dan mengeruk keuntungan sesaat. Hmmm, tapi masih wajarlah. Fungsi spekulan memang seperti itu, bertugas menyeimbangkan S dan D.”

“Anehnya spekulan tidak ada, tetapi kenapa S tetap. Sayang kan, kalau D naik sementara S diam terus. Margin di depan mata kecebut laur begitu aja. Mubazir. Tidak ada satu pengusaha pun, bahkan spekulan yang tertarik. Mestinya, S akan menarik pengusaha untuk bermain dan menaikkan S Sehingga harga mencapai titik keseimbangan. Sebuah titik win win solution. Pembeli masih mempunyai ability to pay dan penjual masih mendapatkan margin.”

“S tetap karena tidak ada insentif bagi penjual barang. Sebesar apapun kenaikan D, S tetap karena adanya instrument subsidi. Subsidi diperlukan karena komoditas BBM sangat strategis. Subsidi diperlukan agar harga BBM tidak bergerak liar mengikuti hukum ekenomi. Bahkan, meskipun kenaikan harga BBM itu sudah benar, ketika keliru dalam timing, moment atau hal kecil lainnya bisa menimbulkan chaos”

“Kita hidup dengan barang yang menempel dibadan kita dari minyak rambut sampai alas kaki. Juga materi di sekitar kita dari gadget yang dipegang setiap hari sampai genteng rumah yang tidak pernah tersentuh. Jika barang itu naik, kita hanya mengeluh dan kemudian beradaptasi. Tapi jika BBM naik, badan seperti sakau. BBM sudah menjadi addict yang membahayakan. Beberapa orang mengatakan bahwa BBM itu barang sangat strategis”

“Sebenarnya pengertian barang strategis atau bukan dapat berubah seiring perkembangan zaman. Strategis mana air minum mineral dengan BBM yang berharga Rp4.500?. Telekomunikasi itu strategis jadi hanya BUMN yang berhak. Sekarang pun masih strategis tetapi setelah dilepas ke pasar bebas. Konsumen dan produsen tetap untung. Harga ditentukan oleh mekanisme pasar.”

“Subsidi itu semestinya hanya untuk sektor yang tidak menarik bagi swasta. Dulu, tidak ada swasta yang tertarik investasi BBM di Indonesia. High risk. Sekarang, ia seperti gula. Sektor hulu diserahkan ke market, damai-damai aja kok. Sektor hilir masih dikontrol dan diberikan subsidi. Sebagian senang karena bisa minum BBM sepuasnya, sebagian senang karena bisa menyelundupkan BBM karena disparitas harga yang luar biasa dengan negara tetangga. Sepertinya tidak ada yang menderita dengan subsidi BBM”

“Dan jika anda ingin menjadi pahlawan, berteriaklah bahwa harga BBM tidak boleh naik. Kenaikan BBM akan membuat rakyat menderita, jadi jika anda menentangnya, anda akan menjadi pahlawan. Tidak perlu untuk menguasai ilmu ekonomi, cukup dengan omongan kosong pun, penentangan kenaikan harga BBM merupakan membuat anda terlihat seperti seorang hero.”

“Membicarakan sesuatu untuk tidak menyerahkan harga ke pasar, atau tidak menaikkan harga terasa mudah jika tidak meñggunakan angka. Jika menggunakan angka, dana untuk subsidi BBM sudah sangat mengerikan. Tahun 2012, subsidi BBM dianggarkan 216 trilun. Bayangkan, apa yang bisa dibuat, jika dan 216 T digunakan untuk sarana pendidikan dan infrastruktur.”

“Menghapus subsidi BBM rasanya tidak mungkin. Yang terbaik adalah mengurangi subsidi BBM dan secara perlahan dihapuskan. Sangat menggelikan, ironis, bahkan konyol. Negara kaya raya pun tidak menghamburkan uang untuk mensubsidi BBM. Indonesia yang masih mempunyai banyak jalan berlubang dan sekolah dengan atap yang bocor tega-teganya mensubsidi BBM.”

“Urusan BBM bukanlah urusan ilmu ekonomi tapi juga politik, budaya dan lainnya. Tentu saja para pemimpin tidak ingin rakyatnya menderita karena harga BBM yang mencekik”

“BBM merupakan sebuah komoditas. Sama seperti cabe, beras, alumunium, batu bara dan lainnya. Komoditas tersebut harganya akan naik dan turun sesuai hukum ekonomi. Keputusan orang untuk membeli dan menjual, menyimpan bahkan menimbun komoditas pun telah dilakukan sesuai dengan pertimbangan ilmu ekonomi.”

“Kita telah mengalami harga cabe sampai naik 4 kali lipat. Harga beras yang naik 2 kali lipat. Ketika harga naik semua menderita. Pedagang pun tidak akan mampu menjual dengan harapan untung besar tapi tidak ada pembeli. Harga terus menerus mencari titik win win solution antara penjual dan pembeli.”

“Jika harga bbm naik. Apakah rakyat akan mati?, rasanya tidak. Menyerahkan harga BBM ke pasar justru akan menumbuhkan S ke titik ideal sehingga menciptakan lapangan kerja baru. Pasti ada korbannya. Tapi perubahan pasti membawa koraban jika ada yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.”

“BBM tentu tidak sama dengan cabe. Ketika BBM naik, orang akan menahan pembelian, setidaknya menghemat atau mencari barang subtitusi. Ketika harga konsumsi naik, biarlah hukum ekonomi yang berjalan. Manusia tidak akan mampu melawan hukum ekonomi.”

“Yang bisa dilakukan pemerintah adalah intervensi pasar atau operasi pasar seperti memperbanyak stock ketika BBM langka sehingga S Kembali ke titik ideal”

“Wallahu a’lam bisshawaab”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: