hidup = ………………


Malam masih mengenggam bumi. Siang dengan matahari yang bersinar terang merebut perlahan. Sang malam tak kuasa menahannya. Hasilnya pagi yang cerah. Perpaduan malam dan siang. Malam beranjak siang.

Aku terbangun. Mesin otak mempunyai sebuah jam yang secara otomatis membangunkan saraf-saraf tubuh ketika matahari nampak di ufuk timur. Andaikan badan terlalu lelah pun, tubuh pasti terjaga. Siklus monoton setiap hari.

Mataku terbuka, cahaya matahari masuk memaksa ke dalam kamar mengenai benda apapun dan memantul ke mata. Benda yang tidak terlihat perlahan menampakkan wujudnya. Anugrah yang patut disyukuri. Apalah jadinya, jika benda tersebut tidak dapat menampilkan wujud. Sinar matahari membantu indera mata untuk mengenali semua wujud benda.

Aku tergopoh-gopoh mencari jam. Melihat jam berapa, dan segera ke kamar mandi. Apakah aku harus mandi secepat kilat atau bermalas-malasan di kamar mandi sangat ditentukan oleh jarum jam yang terus berdetak. Jarum jam tidak mengenal kompromi dan dan tidak mengenal toleransi sedikit pun.

Setelah mandi, aku ingin sarapan tapi kemacetan akan memangsaku dengan sadis dan majikanku memotong upah by system. Tidak, aku harus segera pergi ke pabrik. Sarapan nanti saja. Urusan perut terkadang bisa ditunda tapi tidak bisa ditiadakan.

Di pabrik, badan menjadi robot seperti ban berjalan. Ketika berada di pabrik, majikan memiliki segalanya. Menulis adalah suatu tindakan sia-sia. Pulang dari pabrik, badan seperti kain basah yang telah diperas. Air energi sudah hampir tidak ada. Andaikan ada hanya cukup untuk membantu membawa badan ke tempat tidur. Begitulah siklus kehidupan.

Ini bukan hidup, ini sebuah siklus alam. Setiap orang punya tafsir sendiri tentang hidup. Sebagian orang, menilai hidup dengan ada atau tidaknya adrenalin. Sebagian dengan “khoirukum anfauhum linnas”. Sebagian lain dengan karya, bahkan masterpiece. Sebagian dengan eksistensi. Anda berhak dengan tasir lainnya.

Awalnya aku aku menafsirkan dengan saya menulis saya ada. Aku ingin menulis sebanyak-banyaknya. Tapi aku harus sadar sesadar-sadarnya. Waktu tidak cukup untuk itu. Meskipun demikian, aku tetap merasa berhak untuk bersenang-senang menulis. Mungkin bukan tulisan masterpiece, tapi setidak-setidaknya sebuah karya. Jika masih tidak layak disebut seagai suatu karya, setidaknya, ada bukti bahwa aku pernah hidup.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: