bapak, pulaaangggg……


Kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan betapa padat, rapat dan sesaknya penumpang kereta adalah perumpamaan seperti pepes ikan. Penjual pepes ikan terkena sangat efisien dalam menyusun pepes ikan. Hampir tidak ada ruang kosong, semua tertata dengan sangat rapi dari atas sampai bawah.

Hari ini, penumpang kembali disiksa dengan kereta dalam jumlah gerbong yang sedikit. Penumpang tetap bahkan mungkin bertambah tetapi jumlah gerbong berkurang hasilnya penyusunan manusia dengan susunan kerapatan manusia yang mengerikan. Tak ada ruang untuk bergerak. Ruang kosong hanya ada diantara kumpulan kepala manusia dan atap kereta.

Seorang bapak yang membawa anak berumur sekitar 2 tahun mempunyai cara kreatif. Ia mengangkat anak tersebut diatas pundaknya. Begitu padat manusia, terkadang ia mendudukkan anak itu diatas kepala bapaknya. Saya fikir ini, meski berada diantara kepadatan manusia. Ia cukup nyaman karena tidak ada beradu fisik dengan penumpang kereta lainnya. Tapi anak ini punya perasaan berbeda dengan perkiraan saya. Anak ini mempunyai perasaan yang sama dengan penumpang lainnya, ketidaknyamanan. Hmmm, kata ini terlalu muluk. Kepatutan, mungkin lebih cocok. Ah tidak juga, kata ini pun terlalu tinggi. Ketidakhewanan, jika kata kemanusiaan masih mahal.

Dua kata, diucapkan berulang-ulang oleh anak berumur 2 tahun lebih ini, lalu diiringi dengan teriakan panjang yang memilukan dengan ekspresi sedih dan kekesalan. “Bapakkkk, pulanggggg….., hikkkksssssss. Bapakkkk, pulanggggg….., hikkkksssssss”. Berulang-ulang tanpa henti dan jeda.

Ya, kata “bapakkk pulangggggg…..” merupakan sebuah ekspressi yang keluar secara bersih dari hati terdalam anak ini. 2 kata ini mewakili bahwa kereta ini tidak layak untuk dijejali lautan manusia.

Tidak layak?…ah, lebay. Kereta ini sangat layak. Kereta ini lebih pro lingkungan dibanding moda transportasi lainnya. Bahkan menteri BUMN, Dahlan Iskan pun berkenan pernah naik kereta. Entah apa kesan beliau. Puaskah, saya tidak tahu. Andaikan Pak Pahlan naik kereta pada pukul 6.30 an arah Jakarta dengan jumlah gerbong sedikit, ceritanya mungkin lebih seru.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: