aku tidak bisa menulis


Jarum di jam dinding terus berdetak dan bergerak maju. Aku masih duduk dan termangu. Aku ingin menulis sebanyak-banyaknya namun ide tidak kunjung datang. Kucoba menulis beberapa kata sehingga menjadi kalimat. Berhasil. Terus beberapa kata lagi. Kubaca ulang. Hmmm, apa maksudnya tulisan ini. Sungguh ga jelas. Akhirnya tuts deleta ditekan lagi, menghapus semua kata-kata yang tidak berguna.

Teringat dengan pendapat pakar, menulis itu harus membuat judul dan outline, sebuah kerangka yang akan membimbing penulis sehingga tulisan tidak keluar dari track dan ide awal. Ok, aku buat judul, yang mudah saja, “Perjalanan ke Kantor”. Gampang, karena aku melakukannya setiap hari. Outlinenya:
1. Alternatif angkutan
a. Angkutan umum
b. Motor
c. Mobil
d. Kereta
2. Rute yang dilalui
a. Jalan ….., waduh, apa nama jalan ini, setiap hari aku lewati, tapi nama jalan aku tidak tahu.
b. Gedung yang dilalui. Nama sekolah, nama mesjid, nama perumahan. Apa ya?…, kok baru nyadar banyak nama bangunan tersebut yang belum kuketahui.
Tulisan ini tidak cocok, terlalu banyak yang tidak kuketahui. Aku harus menulis yang dikuasai. Kata pakar juga, tulislah yang diketahui, ga usah sok-sok an tahu. Be your self. Aku hapus lagi. Sedih juga. Padahal, lumayan udah mampu membuat judul dan setengah outline.

“Simpanlah handuk diatas kursi, dan tulislah tentang handuk itu” demikian kata Zaim Uchrowi. Tips latihan menulis yang menarik. Aku segera beranjak dari kursi dan menyimpan handuk di atas kursi. Ok, gampang sekali. Inilah menulis yang mudah. Tanpa perlu mencari tahu nama jalan, pendapat cerdik pandai yang dijadikan referensi.

Mulai!!!, mataku menatap handuk dan jariku mulai menulis. “Ada handuk berwarna merah diatas kursi, di ruang dapur. Handuk itu bermotif bunga dan berwarna merah dalam keadaan basah. Mungkin baru dipakai pemiliknya, atau mungkin kehujanan. Handuk tersebut disimpan dengan cara yang tidak rapi sepertinya pemilik handuk menyimpan sekenanya, mungkin dengan melemparnya.

Warna handuk itu sudah pudar. Benang handuk telah banyak terkelupas. Bagian handuk yang paling rusak dan yang paling pudar warnanya ada pada bagian tengah, tidak ditengah benar, tetapi diantara tengah dan sisi handuk. Bagian inilah yang paling bekerja keras ketika mengelap badan orang.

Handuk ini berukuran sedang. Jelas bukan milik anak kecil. Sepertinya milik orang dewasa. Warna merah dan motif bunga. Hmmm, sepertinya milik perempuan. Perempuan dengan handuk merah, wah, sepertinya perempuan yang hot, agak agresif dan dinamis. Merah gitu loh. Kalau perempuan pendiam mungkin akan memilih warna kalem. Analisis jadi-jadian.

Bahagia juga menjadi handuk merah ini. Senantiasa mengelap tubuh mulus perempuan. Begitu setianya, ia tidak memperdulikan bagian tubuh mana yang harus dilap. Tak ada yang cemburu, ketika hanya bagian tertentu saja yang sering digunakan. Semua bagian handuk sadar akan fungsi masing-masing.

Lalu, kenapa handuk ini menjuntai tak beraturan diatas kursi dalam keadaan yang masih basah. Bukankah semestinya handuk ini disimpan dengan manis diatas tempat jemur handuk dan dijemur dibawah sinar matahari. Aku berburuk sangka, pastilah perempuan ini tidak sayang akan handuknya. Ternyata rasa sayang handuk kepada perempuan ini bertepuk sebelah tangan.

Atau…., perempuan ini terburu-buru. Bukankah wanita dinamis itu senang berlomba dengan waktu. Setelah mandi, perempuan ini mengelap tubuhnya dengan handuk dan melemparnya ke atas kursi lalu memakai baju dan segera berpakaian untuk mengejar waktu. Ia tentu saja sayang dengan handuknya tapi ada urusan yang jauh lebih penting dari hanya menjemur handuk.

Kursi ini. Kenapa berdiri di tengah ruangan dapur. Lonely, kemana pasangannya, meja dan kursi lainnya. Kursi ini menyendiri karena ada orang yang menariknya ke dekat TV dan lupa mengembalikan ke tempat asalnya. Kursi, ternyata mempunyai nasib yang sama dengan handuk. Digunakan ketika diperlukan dan dilupakan ketika tidak diperlukan.

Tapi, semua ini hanya masalah waktu. Handuk akan dijemur dibawah sinar matahari dan kursi akan kembali disimpan di komunitasnya. Pemiliknya pasti menghendaki kerapihan dan kesehatan yang diperlukan pemilik benda ini.”.

Aku, termenung. Nulis apa aku ini. Kok garing banget. Ga ada luapan emosi, ketegangan dan klimaks. Kubaca ulang, terasa mengganjal dan aneh. Segera klik kanan, select all dan delete. Yups, lega sudah. Hmmm, aku harus googling lagi tentang tips menulis. (To be continued)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: