sejarah sebenarnya


Tanggal-tanggal tertentu diperingati sebagai hari bersejarah nasional. Hari dimana ada moment yang layak diperingati, dikenang dan dijadikan pelajaran dan renungan bagi generasi yang akan datang. Begitu bersejarahnya, sebagian hari bersejarah tersebut dijadikan hari libur.

Pada momen tersebut, beberapa tokoh manusia diadakan dan memang ada. Beberapa diantaranya menjadi pahlawan kerajaan. Ketika seseorang telah dijadikan pahlawan, haram hukumnya melihatnya dari sisi kemanusiaan. Pahlawan harus menjadi icon suritauladan, sehingga ia seperti malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Gambarnya harus berwibawa. Pakaian, raut muka, body buildingnya harus mencerminkan sebagai sosok yang terhormat.

Pelajaran sejarah dibuat penguasa, beberapa diantaranya memang ahli sejarah. Sebagai manusia, mungkin berbuat salah dan wajar sepanjang masih dalam koridor ilmiah. Tapi berhati-hatilah, sejarah yang diajarkan jangan sampai melukai penguasa atau menurunkan kehormatan pahlawan. Ada penjara yang siap menanti, setidaknya cibiran.

Anak-anak, siswa sekolah memang senang dengan cerita. Pelajaran sejarah, sepertinya nanti dulu, menghapal dan mengingat tahun, bulan, apalagi tanggal kejadian terasa membosankan. Sejarah dan dongeng kemudian menyatu. Dongeng terasa datar jika ditulis dengan hal-hal biasa. Ia perlu dramatis, mencengangkan, ada klimaks, dan enak untuk diceritakan.

Tidak ada yang salah, cerita, entah itu dongeng, film ataupun drama merupakan bagian dari seni. Seni itu unlimited. Seni yang dibatasi akan menghasilkan karya yang nanggung. Seni itu buah karya imajinasi. Batas imajinasi itu adalah langit.

Saya membaca sejarah dengan persfektif yang mungkin keliru. Kemerdekaan bangsa ini diperoleh dengan kerja keras para pejuang yang memegang bambu runcing. Rasa patriotisme diajarkan dengan menggebu-gebu menghasilkan kebencian yang luar biasa kepada Portugal, Belanda, inggris, dan Jepang. Negara yang kemudian disebut penjajah.

Bambu runcing dijadikan simbol-simbol ketika ada peringatan hari kemerdekaan. Gapura, rasanya kurang lengkap dengan bambu runcing. Tidak lupa pula, para manusia perkasa dengan ikat kepala berwarna merah putih. Tidak cukup dengan perkasa, juga dengan wajah yang beringas. Beberapa diantaranya gambar bambu runcing yang ditusukkan ke badan orang-orang yang disebut penjajah. Tidak nyaman untuk dilihat, namun mungkin sebuah ekspresi kekesalan dengan begitu lamanya rasa sakit dijajah.

Fakta lain, dari sejarah yang diajarkan di sekolah adalah bahwa kemerdekaan juga diperoleh dari perjuangan para guru, cerdik pandai, jalur politik juga diplomasi dan jangan lupa situasi dunia saat itu. Tapi hàl ini kurang menarik dan susah untuk mencernanya. Yang paling gampang dicerna adalah membuat warna dikotomi, hitam dan putih. Hitam merupakan gambaran iblis dengan negara penjajah sebagai perwakilannya. Putih simbol malaikat, tanpa dosa, dengan bangsa ini sebagai pihak yang teraniaya.

Gandhi, tokoh yang paling dihormati di India dan juga salah satu orang terhormat di bumi ini. Dalam sebuah film, Gandhi hampir seperti malaikat. Ia begitu sangat cinta damai, mempunyai toleransi tinggi terhadap keanekaragaman agama, hidupnya benar-benar ditujukan untuk kemaslahatan orang banyak, sedikitpun ia tidak berminat dengan hal-hal duniawi seperti harta, tahta dan wanita.

Sisi kemanusian Gandhi tetap ada. Ia begitu kesal dengan isterinya dan mengusirnya. “All right then go, you don’t belong here. Go and leave the Ashram together. We don’t want you” teriaknya. Beruntunglah, Gandhi mempunyai isteri yang hebat dan menyadarkannya. ” You’re human, only human”. Gandhi sadar dan minta maaf.

Sejarah diisi oleh orang hebat. Kita yang yang ada sekarang akan menjadi sejarah untuk generasi berikut, meskipun pilihan tetap ada pada diri kita apakah menjadi hero atau losser. Benar atau salah sebuah tindakan, sejarah semestinya ditulis dengan apa adanya, sejarah sebenarnya.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: