passion itu kerasukan


“The voices, I can’t stop them, They come to me when I sleep, when I wake, when I sup, when I walk down the hall”.

“The sweet longings of maiden, the surging ambitions of courtier, the design of a murderer, the pleas of his victims”.

“Only when I put their words, their voices to parchment… are they cast loose, freed”.

“Only then is my mind quieted”

“I would go mad if I didn’t write down the voices”

Demikian jawaban Edward de Vere, pengarang sebenarnya dari William Shakespeare ketika ditanya isterinya, kenapa ia menulis dan menulis lagi, padahal rumah tangganya sedang berada dalam kesulitan keuangan. Isterinya menganggap Edward kerasukan dan Edward tidak membantahnya. Begitu kerasukan menulis sehingga ia tidak begitu peduli bahwa anak perempuannya sebentar lagi akan dilamar orang.

Kerasukan mungkin kata lain dari passion. Henry Ford juga kerasukan dengan mesin mobil. Ia mengurung diri dalam kamarnya dengan mesin mobil. Thomas Alfa Edison juga kerasukan dengan lampu pijar. Kisah sukses banyak dilakukan orang kesurupan dan mungkin gila. Susi Susanti dan Alan Budikusuma mempunyai passion yang kuat dengan olahraga bulutangkis. Setelah pensiun, ia tetap di jalur bulutangkis dengan membuat racket bulutangkis. Begitu juga dengan Taufik Hidayat yang mempunyai passion tinggi dengan bulutangkis.

Orang mungkin mengira, mereka bekerja keras, sebenarnya tidak. Mereka hanya melakukan dan menuruti apa yang disuarakan oleh panggilan jiwa. Orang tua kita selalu menasehati anak kesayangannya agar bekerja keras supaya sukses seperti para pesohor. Namun, kerja keras akan hilang dan passion akan menjadi mantra ampuh dalam membuka aktualisasi seseorang sehingga mampu melakukan suatu pekerjaan lebih daripada hanya bekerja keras atau bekerja cerdas.

Mungkin, anda putus asa dan menganggap tidak punya passion dalam hidup. Seolah-olah apa yang anda kerjakan semata-mata hanya tuntutan dan kewajiban hidup. Tidak, teman. Anda pasti pernah punya passion. Ingatlah, sewaktu anda masih anak-anak, mungkin anda pernah menginginkan suatu mainan, hingga dengan kurang ajarnya melempar genteng rumah, membanting piring hanya untuk menunjukan kepada orang tua bahwa anda menginginkan mainan itu. Enggak berhasil juga, anda sudi menyisihkan uang jajan demi mainan. Anak ini memang kerasukan mainan.

Ketika dewasa dan falling in love. Gairah mendapatkan pujaan hati bisa membuat lupa diri dan lupa daratan. Focus, all world is only for her / him. Kadang, anak baik bisa menjadi durhaka, jika keinginan anak berbeda dengan orang tua. Inilah yang dinamakan dengan passion. Lebay memang mengibaratkan passion dengan orang jatuh cinta. Tapi ini bukti nyata bahwa kita semua punya passion.

Tapi, mungkin anda termasuk orang beruntung. Mainan gampang didapat, pujaan hati malah mengejar-ngejar anda. Anda juga begitu pintar, lusinan perusahaan mengejar-ngejar anda. Anda diburu para head hunter. Hidup ini terlalu mudah dan flat. Berhati-hatilah kawan, anda berada dalam comport zone, PW, Posisi Wenak. Wilayah nyaman yang kadang menjerumuskan anda ke jurang kehampaan.

Passion merupakan bagian dari hidup. Ada yang menemukannya dengan mudah, adapula yang menemukannya dengan semedi di gua sunyi selama bertahun-tahun. Passion adalah diri anda yang sebenarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: