lubang jalan makan korban


“Brug”, motor saya terperosok ke lubang jalan. Tangan saya yang memegang stang terlepas, akibatnya dapat diduga, motor dan badan saya terjatuh. Hasilnya pergelangan tangan kanan terkilir, lutut kaki kiri dan tangan kiri lecet. Masih beruntung (celaka saja masih beruntung), tidak ada kendaraan yang menabrak saya, badan (khususnya kaki) tidak tertindih motor.

Alhamdulillah (meski celaka tetap bersyukur), ada orang menolong dengan meminggirkan motor. Badan saya tak kuat untuk memindahkan motor. Kata orang ini, sebelum saya jatuh, ada juga orang yang terjatuh dalam lubang sama. Jam yang sama dengan lubang yang sama. Jika ada sepuluh lubang jalan dengan anggaplah ada 10 jam, berapa korbannya. Tapi sudahlah tidak perlu berfikir seperti itu.

Ada banyak lubang jalan yang saya hapal, dari stasiun Sudimara sampai rumah. Saya mengingatnya dan mampu melewatinya. Sial, ketika sudah dekat dengan rumah, lubang jalan ini terlupakan. Jalan menurun mulus dan hujan mengguyur lebat begitu efektif untuk mengecoh pengguna jalan jika pada jalan ini ada lubang yang siap memakan korban.

Jalan Jombang dari stasiun Sudimara ke tanah tinggal relatif mulus. Belok kanan, jalan Aria Putra masih mulus. Sebelum pom bensin, ada lobang kecil. Jalan menurun, hati-hati ada lobang kecil namun bisa membahayakan sebelum perumahan green hill. Menanjak lagi setelah belokan, ada lubang. Dua lobang lumayan besar siap menghadang di depan perumahan Bintaro Regency. Sebelum Rumah Sakit Ibu Anak Buah Hati, pas setelah belokan, lobang juga kembali menghadang. Lubang cukup lebar bahkan cukup untuk berkubang bagi anak kerbau kembali ada, sebelum simpang tiga.

Sesuai rute, saya belok kanan sebuah jalan kecil, jalan Haji Taif, kemudian jalan Bambu Apus. Jalan ini meskipun tidak mulus karena ada yang hanya dibuat dari beton dan konblok tetapi relatif aman, tidak ada lubang, tetapi tetap hati-hati karena ada ada polisi tidur.

Saya kembali ke jalan raya, jalan Pajajaran. Ada tempat favorit jalan berlubang, never ending story. Tepat di pinggir Situ Kedaung (ada juga yang menyebutnya Situ Sasak) terdapat tempat strategis air berkumpul hasil turunan jalan dari depan gelanggang pacuan kuda. Air dari turunan tersebut tidak bisa langsung terbuang ke dataran rendah karena drainage yang buruk. Akibatnya setiap musin hujan pasti ada jalan berlubang sekitar 3 meteran, sebuah tempat terkutuk.

Setelah jalan lubang depan Situ Kedaung, jalan kembali mulus semulus-mulusnya. Tapi awas, setelah pom bensin, siap-siap ada jalan berlubang, tepatnya di depan pertigaan ke Pamulang Permai Timur. Setelah itu kembali (sangat relatif) mulus. Lurus terus Jalan Suryakencana. Belok kiri, Jalan Dr. Setiabudi. Depan toko helm, ada lubang kecil sih, tapi dijamin bikin kaget. Setelah itu mulus dan jalanan menurun. Dan “brugggh”. Disinilah aku terjatuh, di depan ruko-ruko baru, tepatnya didepan apotik 24, korban keganasan lubang jalan.

Tidak ada laporan resmi berapa korban yang telah berjatuhan akibat jalan yang berlubang. Tahun 2007, teman sekantor juga terpelesat jatuh karena jalan berlubang dan meninggal dunia, karena setelah terjatuh, sebuah mobil container melindasnya. Saya tidak tahu, apakah kejadian tersebut masuk berita atau tidak. Andaikan masuk ke media masa pun hanya sekilas dan kemudian terlupakan. Berita kecelakaan lalu lintas merupakn berita biasa, market kurang menyukainya.

Musin hujan merupakan alasan yang paling tepat tentang buruknya jalan. Air merupakan musuh nomor wahid bagi aspal. Tapi, pasti ada cara lain dalam menangkal, setidaknya meminimalkan terjadinya korban. Setelah saya terjatuh, anak muda yang menolong saya tadi. Menyimpan sebuah pot besar tanaman dan meletakkannya di jalan berlubang. Berbahaya memang, karena pot tadi bisa ditabrak kendaraan. Tapi membiarkan jalan berlubang juga lebih berbahaya karena akan menjadi jebakan betmen.

Lubang jalan mungkin hal yang terlupakan, kita lupa dan melulu bicara sesuatu yang absurd. Menyalahkan orang lain merupakan cara termudah tetapi tidak ada gunanya. Saya ingin sharing beberapa hal tentang jatuhnya saya dari motor. Pertama, pakaian sangat berperan penting bagi keselamatan berkendara. Saya memakai sarung tangan, jaket, jas hujan dan sepatu. Sepatu lucut, tapi setidaknya kaki saya tidak lecet. Jas hujan pada bagian kaki robek, setidaknya, lutut saya hanya lecet dan memar.

Kedua, penguasaan medan. Idealnya 100%. Kalau tidak 100%, anda bisa celaka. Saya salah satu korbannya. Lupa ada jalan berlubang, padahal, sebelumnya sukses melewati banyak ranjau jalan berlubang. Cuaca juga sangat berpengaruh. Hujan membuat jalan seperti enak untuk bermain ice skating.

Ketiga, keahlian berkendara. Tangan saya terlepas dari stang akibatnya hilang keseimbangan dan terjatuh. Kalau tangan masih mencengkram stang, mungkin tidak terjatuh. Konsentrasi juga harus fokus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: