membaca seperlunya


Membaca itu pintu pengetahuan, jendela dunia. Membuka mata dan dapat merubah cakrawala berfikir anda. Apa yang anda baca bisa mengarahkan anda kemana anda berfikir dan menilai. Membaca itu aktifitas positif dan mulia, namun terkadang bisa juga menjadi tidak berguna bahkan bisa mengotori cara berfikir anda.

Penguasa otoriter memegang kendali sepenuhnya atas media karena media yang dibaca akan mempengaruhi cara pandang rakyat terhadap penguasa. Izin yang sulit, bredel, ancaman subversi menjadi senjata ampuh mengendalikan media.

Saya senang membaca hal apapun dan media apapun. Kertas pembungkus makanan yang ada hurufnya selalu membuat curious, jangan tanya bagaimana berbinar-binarnya mata ketika melihat bahan bacaan seperti koran, majalah, apalagi majalah full colour. Tapi itu duluuu…, sewaktu masih anak-anak.

Sekarang, membaca sepertinya kurang begitu menyenangkan. Dulu media menjadi corong penguasa, sekarang media menjadi corong pemilik modal. Anda punya uang, buatlah media, entah itu berbentuk koran, majalah, TV, portal online. Visi, misi, keluh kesah anda dapat tersalurkan. Wajar toh, anda punya passion di otomotif, jika anda membuat tabloid otomotif, syahwat otomotif anda akan tersalurkan dengan positif.

Ini adalah zamannya kebebasan. Unek-unek anda dapat keluar dengan bebas. Selama anda positif dan punya modal, bersyukurlah, anda bisa menebar aura positif anda ke semua orang tanpa batas.

“Ten thousands soul, all listening to the writings, one man. The idea of one man. That’s power” (dalam film berjudul “Anonymous”, demikian ungkapan Edward de Vere (pengarang sebenarnya karya-karya William Shakespeare), seorang the earl of oxford. Tulisan media
Begitu berpengaruh bagi kita. Kita, elu kali ya. Gue kagak.

Ditengah berseraknya informasi. Saya harus memilih informasi, mana yang layak baca, mana yang tidak. Mana yang inspiratif, mana yang sampah. Mana yang ditulis dengan pena emas dengan kehati-hatian dan mana sumpah serapah.

Tentu, saya ingin membaca semuanya, tapi waktulah yang memaksa, bahwa kita harus membaca yang memang benar-benar perlu untuk dibaca. Membaca seperlunya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: