masyarakat yang semakin terspesialisasi


“Semir Pak”, seru seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahunan, menawarkan jasa semir sepatu. Saya tidak menjawab, hanya mengangkat tangan kanan untuk memberi isyarat belum memerlukan jasa semir. Saya berdoa, semoga tindakan ini bukan bentuk keangkuhan karena tidak menghormati orang yang mau menjual jasa semir sepatu.

Dahulu, banyak orang menganggap penyedia jasa semir sepatu sebagai pengemis berkedok penyemir sepatu. Mungkin karena, umumnya penyemir sepatu berwajah lusuh dan berpakaian kumal. Masyarakat pun, belum banyak memerlukan jasa semir sepatu.

Awalnya, saya tidak memerlukan jasa semir sepatu. Sepatu disimpan di kantor. Menggunakan sandal ke kantor lebih praktis. Namum ketika menjadi biker, terpaksa menggunakan sepatu ketika ke kantor. Mengendarai motor dengan bersepatu lebih nyaman dan aman. Namun, dampaknya, sepatu cepat kotor.

Sebenarnya, saya ga begitu peduli dengan sepatu yang kotor. Tentu, saya ingin menggunakan sepatu yang bersih, tapi kalo harus kinclong, rasanya tidak mempunyai waktu yang cukup kalau setiap hari harus menyemir sepatu. Anak-anak penyemir sepatu ternyata mampu melihat peluang ini. Mereka menjual jasa yang halal bukan menjual belas kasihan.

Sekarang, kalau sepatu sudah teramat kotor, sya malah minta jasa semir sepatu, bukan mereka yang menawarkan. Hanya dalam waktu sekitar 2 menit sudah kinclong. Kalau saya menyemir sendiri, mungkin perlu waktu lebih dari 3 menit. Belum lagi waktu yang terbatas.

Mungkin, berlebihan, menyebut penyebut penyemir sepatu sebagai jasa profesional. Namun melihat kecepatan menyemir dan hasil semirnya. Ia lebih profesional dari saya dalam hal menyemir sepatu. Terkadang, saya kesulitan mencari penyemir sepatu karena banyaknya orang yang menyemir sepatu di stasiun. Bukti, bahwa demand sudah mulai naik.

Di beberapa tempat, juga ada jasa membersihkan helm. Saya belum pernah secara khusus membersihkan helm. Aneh rasanya, membersihkan helm kok harus oleh orang lain. Namun, itulah faktanya. Sekarang ada orang yang mempunyai spesialisasi membersihkan helm.

Dulu, jasa kebersihan kendaraan, hanya kendaraan roda empat saja. Setelah motor booming, jasa cuci motor bertebaran dimana-mana. Orang sudah mulai kehilangan waktu untuk mencuci motor sendiri.

Pembantu rumah tangga pun sekarang sudah mulai spesialisasi. Kalau membantu membersihkan rumah, ia tidak mau mengurus anak kecil. Jika ia mengurus anak kecil, ia tidak mau membersihkan rumah

Profesional kerah putih sudah lama mengkhususkan diri pada keahlian yang spesifik. Ini perbedaan ekstrim modern dan tradisional. Tradisional, semua dikerjakan sendiri, sedangkan modern, semua dikerjakan orang lain.

Sebenarnya, spesialisasi bukan hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga dilakukan oleh perusahaan bahkan negara. Berikut ini saya kopas sebuah anekdot, kenapa jobless di USA masih tinggi. Ini OOT, tapi saya fikir, bisa ada hubungannya (maksa), jika melihat beberapa negara menjadi terkenal akan produk tertentu. Beberapa negara menjadi spesialis produk tertentu:
Why Are Americans Jobless ?

John Smith started the day early having set his alarm clock (MADE IN JAPAN) for 6 a.m.

While his coffeepot (MADE IN CHINA) was perking, he shaved with his electric razor (MADE IN PHILIPPINES) .

He put on a dress shirt (MADE IN SRI LANKA), designer jeans (MADE IN INDONESIA) and tennis shoes (MADE IN VIETNAM). After cooking his breakfast in his new electric skillet (MADE IN INDIA), then he sat down with his calculator (MADE IN MEXICO) to see how much he could spend today.

After setting his watch (MADE IN TAIWAN) to the radio (MADE IN INDIA), he got in his car (MADE IN GERMANY) filled it with GAS (from Saudi Arabia) and continued his search for a good paying AMERICAN JOB.

At the end of yet another discouraging and fruitless day checking his computer (MADE IN MALAYSIA), John decided to relax for a while. He put on his sandals (MADE IN BRAZIL) poured himself a glass of wine (MADE IN FRANCE) and turned on his TV (MADE IN KOREA), and then wondered why he can’t find a good paying job in AMERICA.

AND NOW HE’S HOPING HE CAN GET HELP FROM HIS PRESIDENT (MADE IN KENYA)


One response to “masyarakat yang semakin terspesialisasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: