membuat e-KTP


Alhamdulillah, meski belum tahu bagaimana bentuk e-KTP, selesai juga proses untuk membuat e-KTP.

Sesuai surat undangan dari kelurahan untuk melakukan proses pembuatan e-KTP pada tanggal 29 November 2010, saya datang pada tanggal itu dan daftar pada pukul 10 an dan ternyata dapat nomor antrian 305!!!, sesuai info dari petugas, nomor antrian 200 keatas akan diproses dari pukul 13.00 sesudah istirahat. Nah loh, dengan nomor antrian 305, diperkirakan, saya akan dipanggil pukul 13.30 an, demikian kata petugas, jadi saya harus menunggu 3,5 jam. Luar biasa…..

Kelurahan, sebenarnya telah melakukan manajemen yang bagus dalam melakukan registrasi e-KTP, dimana pendaftar e-KTP disesuaikan dengan undangan sehingga tidak ada penumpukan pendaftar pada hari tertentu. Saya dan isteri mendapat undangan pada tanggal 29, sedangkan adik ipar dan mertua dapat undangan pada tanggal 30, beberapa tetangga ada yang mendapat undangan pada tanggla sebelumnya.

Hal lain yang juga perlu mendapat apresiasi adalah petugas pendaftaran dan pemanggilan dilakukan oleh 2 anak muda. Dari tampilannya seperti bukan pegawai kelurahan, ia begitu luwes dan sigap, jauh sekali dari stereotif pegawai yang jutek dan lamban.

Dalam undangan disebutkan bahwa sesuai undang-undang kependudukan, nomor, pasal dan nama undang-undangnya saya lupa, bahwa dalam KTP, harus disedikan ruang untuk photo, tanda tangan, sidik jari dan iris. Jadi sebenarnya e-KTP merupakan tindak lanjut dari undang-undang tersebut.

Akhirnya, saya dipanggil juga, masuk ke dalam ruangan, diphoto kemudian tanda tangan, terus dilakukan pemindaian sidik jari. Pertama 4 jari kanan dan kiri (tanpa jempol) kemudian jempol kanan dan kiri. Terakhir pemindaian iris mata.

Saat diphoto, kita diarahkan supaya mata menghap ke kamera dan posisi badan tegak, mata harus disiagakan supaya ketika flash menyala, mata tidak merem. Saya beberapa kali diulang karena matanya merem dan posisinya kurang tegak. Sedangkan ketika dilakukan pemindaian iris, mata harus melotot. Ini pun saya diulang karena matanya kurang melotot.

Saya dan isteri merencakan, isteri datang duluan untuk registrasi dan mengambil nomor kemudian saya menyusul, ternyata, saya malah datang duluan karena tidak disangka lalu lintas yang saya lalui lancar, padahal kertas undangan ada di isteri, akibatnya nomor antrian tetap harus menunggu lembar undangan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: