…..sinyal jalur hijau segera berangkat


“Ting..tong..ting….tong”
“Kami informasikan, kereta jurusan Serpong, berangkat pukul 17.48, saat ini keretanya di Pasar Minggu Baru, menuju Stasiun Manggarai”

“Ting..tong..ting….tong”
“Kereta jurusan Rangkas Bitung, selesai turun penumpang, dipersiapkan berangkat. Masinis, terima sinyal hijau, dipersilahkan berangkat””

“Bagi calon penumpang tujuan Depok, berangkat pukul 15.45, saat ini keretanya telah tersedia di jalur 5”

Ketika anda berada di Stasiun, telinga anda harus dibuka lebar, mata tentu berguna, tetapi informasi lebih efektif melalui telinga. Petugas stasiun berbaik hati, dengan tanpa lelah menginformasikan keberadaan kereta berada. Jika anda mengantuk, anda bisa tersesat.

Beberapa hari ini, saya melihat kemajuan. Di dekat tempat naik kereta, terdapat LCD yang menginformasikan keberangkatan kereta. LCD ini sudah lama ada, tetapi dulu hanya tempat perusahaan beriklan. LCD berukuran sekitar 32 inch menjadi begitu terlalu kecil dibanding besarnya stasiun. Informasi pada LCD statis sehingga tidak menarik. Saya tidak yakin, apakah informasi pada LCD dapat diterima dengan baik oleh penumpang. Semua penumpang sangat tergantung pada informasi lisan yang disampaikan petugas.

Membayangkan informasi pada display elektronik dengan ukuran besar pada stasiun rasanya tidak mungkin karena high cost, tidak seimbang antara benefit dan costnya. Tetap menggunakan media komunikasi lisan pun sudah mulai terasa bukan zamannya dan tetap costly karena harus membayar orang yang woro-woro di microphone.

Saat ini, kita hidup dalam dunia yang sangat closely meski hanya secara virtual. Secara fisik berjarak ratusan bahkan ribuan kilo meter, tetapi secara maya, ia persis didepan muka kita. Lalu, apa hubungannya dengan komunikasi petugas kereta api dengan dengan calon penumpang?. Pasti ada hubungannya, saya membayangkan kereta api, khususnya komuter mempunyai akun di twitter, facebook, dan social network lainnya sehingga petugas dapat memberi informasi dengan biaya yang sangat murah, penumpang pun dapat melihat informasi dengan nyaman dan tidak memerlukan operasi agar mempunyai telinga seperti telinga kelelawar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: