Citarum kami, dulu dan kini


Dulu, waktu SD, ada buku pintar, namanya Himpunan Pengetahuan Umum (HPU). Buku ini, sekarang, mungkin sudah tidak ada di perpustakaan. Andaikan adapun, orang sudah malas membacanya. Pengetahuan umum sekarang berada di wikipedia dan jutaan situs lainnya. Informasi dapat langsung tersedia di depan anda. Syaratnya hanya satu, akses internet.

Hari ini, saya melintas di sebuah tempat, dimana sering muncul di buku HPU. Apa sungai terpanjang di Jawa Barat?, jawabannya, mungkin anda sudah tahu. Citarum. Sungai ini membentang jauh dari Bandung, turun ke Purwakarta, dan mengalir menuju laut dan dijadikan perbatasan Bekasi dan Karawang.

Ketika melintas bersama anak, sungai ini dilihat anak dengan respon yang antusias dan takjub. Pertanyaan polos pun keluar, ada ikannya ga?, ada buayanya ga?. Jika orang dewasa melihat sungai ini, tak ada perhatian, melihat sejenak dengan ekspresi biasa, datar saja. Orang baru terhenyak, kaget dan deg-degan ketika air Citarum naik mendekati tanggul. Tanggul ini dibuat kapan, warga di Karawang menyebutnya gili-gili.

Citarum yang saya lihat sekilas seperti mengingat kembali memori sewaktu saya masih SD pada tahun 1980 an. Jangan tanya, apakah pada tahun 1980 an, Citarum layak untuk mandi atau layak untuk diminum. Pertanyaan ini tidak terlintas sedikitpun, jadi tentu saja saya tidak mampu menjawabnya, wong bertanya aja belum belum terbayang. Faktanya, warga disekitar Citarum banyak yang mandi dan berenang dan tidak ada seorang pun yang kena penyakit kulit. Itu dulu. Sedangkan sekarang, jangankan untuk mandi, ketika ada anggota tubuh yang kena air Citarum, orang akan mencucinya dan menggosoknya, seolah-olah bersentuhan dengan najis.

Dulu, ketika air Citarum surut, tiba-tiba warga disediakan tempat bermain bola yang menakjubkan. Bagaimana tidak, saya dan teman-teman bisa bermain bola disamping air yang mengalir. Ketika bermain bola usai, saya bisa langsung mandi, tepat disamping tanah yang mendadak jadi lapangan sepak bola.

Ketika kemarau, biasanya air Citarum Menyusut dan tanah yang biasanya terendam air mengering. Hebatnya tanah ini bukan sembarang tanah. Terkadang, saya dan teman-teman mengambil beberapa genggam tanah dan membuat barang-barang sesukanya. Ada yang membuat asbak, rumah-rumahan dan sebagainya. Ketika tanah tersebut sudah kering, saya gosok dengan gelas. Semakin lama digosok, tanah tersebut semakin kinclong.

Meskipun tidak merokok, saya pernah membuat asbak dari tanah yang diambil dari tanah yang diambil dari sungai Citarum. Asbak ini saya gosok dengan gelas dan hasilnya menjadi mulus dan kinclong. Terkadang, saya senang sekali menempelkan asbak ini ke pipi karena terasa dingin. Kebiasaan yang aneh.

Di beberapa tempat, di sekitar sungai Citarum, terdapat pangkalan pasir, warga menyebutnya pangkalan. Pangkalan ini merupakan tempat dimana orang mengambil pasir dari sungai Citarum dan kemudian mengumpulkannya di pangkalan. Beberapa tempat dalam air Citarum terdapat pasir yang pastinya sangat berharga. Pasir dalam air tersebut diangkat ke perahu dan kemudian dikumpulkan di pangkalan. Citarum juga turut membuka lapangan kerja, memberi penghasilan, ikut andil dalam membangun.

Di beberapa tempat, di pinggir Citarum juga terdapat tumbuhan. Ada pohon buah seri, demikian warga sekitar menyebutnya. Ada juga pohon tablo, ini juga saya tidak tahu bahasa Indonesia nya. Pohon ini, sering saya dan teman-teman potong dan dijadikan peluru untuk main tembak-tembakan. Bahkan ada juga orang yang menanam pohon seperti pisang dan beberapa sayuran lainnya.

Intinya, semua orang bersahabat dengan Citarum. Anak-anak dengan lapangan bola dan tanah liatnya juga rekreasi airnya, ibu rumah tangga dengan airnya karena bisa mencuci, beberapa orang dengan pasirnya. Bahkan Citarum pun banyak dijadikan kakus.

Sekarang, mandi, cuci, kakus (MCK) mungkin sudah bukan lagi tempatnya karena sudah hampir setiap rumah sudah mempunyai fasilitas MCK. Citarum sudah dilupakan, jangankan ditengok, memberi senyum pun enggan.

Citarum, sekarang seperti telah menjadi fasilitas sarana pembuangan limbah. Tentu kita tidak boleh berfikir negatif terus. Citarum juga menjadi sarana pengendalian banjir. Saya yakin Citarum masih mempunyai banyak fungsi.

Citarum hanyalah benda mati. Air, cekungan tanah, tanggul tidak bisa berkomunikasi dengan manusia. Ia tidak bisa marah. Rasanya, tidak juga, ia bisa marah ketika banyak pohon ditebang, Citarum tidak mampu menampung air hujan. Air Citarum naik dan akan memangsa siapun bahkan mampu menenggelamkan desa.

Ketika orang membuang limbah, ia pun membalasnya dengan tidak mau menyedikan air bersih. Ia tidak melakukan aksi, tetapi hanya melakukan reaksi atas aksi manusia.

Sejenak, saya melihat Citarum. Beberapa meter, saya lalui, kemudian beberapa kilometer sampai puluhan kilometer. Imajinasi kekankak-kanakan saya tiba-tiba muncul, Citarum mampu berkata…..

“Kita pasti sudah berubah,……kita tidak bisa bersahabat seperti “dulu”……., tapi bukankah kita masih bisa bersahabat seperti “kini”.

#menghayal dan membayangkan bisa ikut ekspedisi Citarum (kalau ada)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: