Saatnya Berhenti Melanjutkan Menulis


Tentu saja, siapapun, termasuk saya mempunyai banyak alasan untuk tidak menulis, untuk berhenti menulis. Kita, tepatnya saya (jika anda tidak mau terlibat) sudah terlatih untuk membuat alasan. Apakah alasan itu reasonable atau tidak, itu masalah lain. Sangat jarang keluar dari mulut saya, keluar kata-kata “ya saya mengakui, ya saya bersalah” dengan muka menunduk. Demikian juga dengan menulis. Saya telah mempunyai banyak alasan jika ditanya kenapa berhenti menulis. Tidak ada waktu, jika saya menulis kapan saya bekerja, saya dibayar oleh majikan untuk bekerja bukan untuk menulis. Menulis telah merampas waktu saya untuk melakukan hal-hal lain yang jauhhh berguna. Saya mempunyai begitu daftar alasan lainnya dan tentu saja tidak berguna untuk anda ketahui.

Menulis bagi sebagian orang merupakan hal yang mudah, bahkan terlalu mudah. Menulis hanya sebuah kegiatan merangkai huruf yang hanya berjumlah 26 buah sehingga menjadi sebuah kata. Kata-kata tersebut disusun menjadi kalimat. Beberapa orang  berharap, kalimat tersebut mampu membuat perubahan bagi dirinya bahkan terkadang berhayal bisa mengubah dunia. Sebuah mimpi di siang bolong.

Bagi sebagian yang lain menulis merupakan hal yang teramat sulit. merangkai huruf tentu saja hal yang mudah. tapi apalah arti sebuah kata jika tidak mempunyai maksud. Andaikan bisa membuat kalimat. Untuk apa?…jika tidak memberikan impact. bukankah hanya membuang waktu, kurang kerjaan dan tidak produktif. So…untuk apa menulis?!!!. bukankah lebih banyak hal-hal baik dan berguna yang bisa kita kerjakan. Ketika seorang penulis telah membuat sebuah tulisan, ia akan membaca dan merenungi kembali, akankan ada pihak lain yang tersinggung, bagiamana jika ada comment yang mengerikan. respond yang tidak diharapkan, apakah……tiba-tiba seorang penulis menjadi begitu terlalu bijak sehingga ia mempunyai banyak pertimbangan dan hasil akhirnya mendelete tulisan tersebut dan ia bisa tidur dengan tenang. Tidak ada karya memang, tapi bukankah ia bisa tidur nyenyak karena tidak ada resiko dari kemungkinan gangguan orang yang tidak senang dengan tulisannya.

Saya hanyalah seorang buruh. Ya buruh, jika kata ini kurang tepat, bisa dikatakan karyawan. Jika kurang tepat juga pegawai, suruhan …atau sebutan apa lagi..terserah anda. Saya tidak mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan dan tidak mungkin membuat perubahan. So..realistis saja dalam hidup. Mengerjakan perintah majikan dengan sebaik-baiknya dan tidak membuat hal-hal yang kurang menyenangkan bagi majikan.

Beda sekali, jika saya seorang pembuat kebijakan, hanya dengan beberapa kata, kata-kata itu akan dibahas oleh para cerdik pandai dan memunculkan opini yang membuat hiruk pikuk dunia. Jadi bisa dibayangkan betapa hebatnya tulisan seorang pembaut kebijakan. Tapi anehnya, saya juga tidak mengerti, siapa yang dimaksud pembuat kebijakan tersebut.

Seorang kawan berkata, jika membuat blog, kapan kerjanya. Betul…tugas saya hanya bekerja bukan hal lain. menulis merupakan kegiatan yang mencuri sebagian waktu saya untuk majikan. Menulis adalah pekerjaan para pengangguran. Jadi saya putuskan untuk berhenti menulis.

Ya…inilah saatnya saya berhenti menulis, koma.

Saya merenung dan menyelam lebih dalam. Apakah hidup hanya seperti ini. melaksanakan perintah majikan, mengikuti mainstream, dan menerima takdir Tuhan. Seolah-olah saya hanya seperti benda mati yang bergerak. Air, ya kata orang seperti air. Mengikuti kemana arus mendorong. Tentu saja ketempat yang lebih rendah.

Tidak teman. Kita adalah manusia. Air sangat berguna bagi kehidupan, sehingga sering disebut sumber kehidupan. Tapi manusia lebih mulia. Ia mempunyai jiwa dan raga. Betul, kita harus mengikuti aturan. kita harus mengikuti alur yang telah diukir, tapi kita juga harus menunjukan existensi kita, keberadaan kita. Menyedihkan sekali, jika anda lahir, hidup, kemudian meninggal. Hidup untuk dinikmati dan disyukuri, bukan hanya sekedar hidup. Hidup harus lebih hidup.

Banyak sekali cara untuk menghidupi kehidupan ini. Kita telah melihat banyak orang yang layak untuk dicatat dalam sejarah. Mozart dengan musiknya, Michael Jordan dengan bola basketnya, Messi dengan sepakbola. Tulisan ini tidak mungkin cukup untuk menulis orang-orang hebat tersebut.

Tulisan kita mungkin tidak berguna. Tetapi tidak menulis jelas lebih tidak berguna. Hanya ada 2 pilihan. Anda tidak perlu menulis karena hidup anda memang layak ditulis orang. Jika hidup anda tidak layak ditulis orang maka anda harus menulis.

Untuk buruh seperti saya, tentu saja tidak ada orang yang mau menulis kehidupan saya. Jadi saya harus menulis. seperti kata orang, Saya menulis saya ada.

Jadi..inilah saatnya kita menulis. Mari menulis….

 


Comments are disabled.

%d bloggers like this: