Certainty


Pada hari Minggu tanggal 27 Juli 2008, saya ke undangan pernikahan sepupu di Aula Graha Purna Wira yang lokasinya di Jalan Darmawangsa 3. Akad Nikah pada pukul 15.00 WIB, resepsinya pukul 19. 00 WIB. Jadi ada kekosongan waktu sekita 4 jam, jeda waktu yang cukup lama. Daripada bengong, jalan-jalan lah saya dan 2 orang saudara ke Blok M Plaza. Ketika pulang pukul 18.30 WIB, ternyata hujan. Daripada kehujanan, naik taksi lah kita, meskipun nama taksinya kurang dikenal. Karena jarak antara Blok M Plaza dengan Jalan Darmawangsa 3 cukup dekat ( (waktu tulisan ini saya buat, jaraknya berdasarkan perhitungan Geogle Earth hanya sekita 1,34 km), kita tanya dulu ke sopir taxi, bisa ga ke ke Darmawangsa 3, jawabnya bisa. Alhamdulillah kita tidak kehujanan, ketika di perjalanan pun tidak ada masalah.

Permasalahan terjadi ketika taxi sampai di tujuan. argometer terlihat Rp 9.850 an. Ketika saya sodorkan uang Rp 100.000, tidak ada kembalian. akhirnya saya pinjam uang saudara Rp 10.000 ditambah uang recehan saya Rp 2.000. saya fikir, pembayaran ini wajar jika melebihkan pembayaran Rp 2.150, karena kalau pembulatan ke Rp 10.000 terlalu kecil, sedangkan kalau ke Rp 15.000 terlalu besar (begitu pelitkah saya atau begitu perhitungan kah saya, entalah?…, tapi saya akan rela jika Sopir taxi meminta Rp 15.000 dengan cara yang sopan. Jelaslah daripada kami bertiga kehujanan. Rp 20.000 pun rela meski agak menggerutu, ya… daripada basah kuyup. Karena dimanapun juga pembayaran taxi itu kan argo base bukannya weather base, maaf jika bahasanya keliru, soalnya meniru tarif internet seperti time base, he..he..).

Permasalahannya adalah sopir taxi tidak menerima pembayaran dan berapa yang diminta pun tidak disebutkan dan ngomongnya yang menyebalkan. “Kalo Rp 12.000, Bapak ambil aja!” sambil melengos. Uh….., Saya tanya, “Bapak minta berapa?”, eh malah dijawab “masa Rp 12.000?”. akhirnya, saya cari pecahan ribuan dikantong baju, kantong celana depan belakang dan kanan kiri, ketemu deh sekitar Rp 4.000 an. Total pembayaran yang diserahkan kepada sopir taxi sekitar Rp 16.000 an.

Cerita diatas mungkin tidak ada gunanya dan mungkin tidak perlu dibaca karena hanya curahan hati atau tepatnya “ngedumel”an saja. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Poin penting yang saya ungkap adalah, penting bagi kita untuk membuat “harga” tips yang dapat diterima semua pihak sehingga ada kepastian.

Ternyata Kepastian dalam tips adalah hal yang sangat perlu difikirkan. Tips aja perlu kepastian apalagi pajak. Oleh karena itulah, dalam pemungutan pajak, Certainty termasuk dalam four maximnya nya Adam Smith.

Dalam UU perpajakan kata kepastian beberapa kali disebutkan. Contohnya pada penjelasan UU No. 28 tahun 2007 disebutkan bahwa salah satu tujuan perubahan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah meningkatkan kepastian dan penegakan hukum selain memberikan keadilan, meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan kepastian dan penegakan hukum, serta mengantisipasi kemajuan di bidang teknologi informasi dan perubahan ketentuan material di bidang perpajakan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: