Sederhana Maning


Seperti biasa, setiap lebaran, saya pulang kampung. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dipetik dari pengalaman di kampung yang mungkin bisa dhubungkan dengan pajak.

1.  Kearifan Lokal. Sewaktu malam lebaran, banyak orang yang melakukan arak-arakan, ada yang memakai motor tanpa helm, ada yang naik kap mobil, dan cara lain yang jika kita melihatnya dengan Undang-undang lalu lintas tentu saja termasuk dalam kategori pelanggaran. Polisi yang menyaksikan hal tersebut tidak melakukan law enforcement. Saya berfikir, polisi melihat kasus tersebut dengan cara kearifan bukan dengan kacamata hukum positif. Alhamdulillah, sampai dengan pagi hari menjelang shalat Ied, tidak ada kerusuhan. Ternyata penegakan hukum tidaklah harus semata-mata dengan penggunaan kacamata hukum tetapi perlu juga menggunakan kearifan yang disesuaikan dengan keadaan lokal. Pun, demikian dengan aturan pajak, kiranya perlu mengatur keadaan lokal karena UU dibuat dengan asumsi kondisi ideal dan kearifan nasional yang terkadang perlu penyesuaian dengan keadaan lokal.

2. Kesederhanaan dan efisensi . Banyak pedagang kecil bahkan pedangan kakilima mau membayar retribusi dengan nilai nominal sekitar Rp 2.000 per hari. jika dikali 30 hari berarti Rp 60.000.

Ternyata banyak orang yang rela bayar pajak / retribusi jika pembayarannya:

1. Sederhana, pedagang tidak repot menghitung berapa laba usahanya pada hari tersebut, tidak perlu membuat neraca dan laporan laba rugi tahunan

2. Efisien. pedagang tidak perlu datang dan antri ke tempat lain karena petugas retribusi datang lagnsung ke tempat pedagang

3. Jumlah pajak tetap sehinggat pedagang dapat mengalokasikan besarnya retribusi yang harus dibayar dengan cermat.

Meskipun sepertinya baik, Hal-hal tersebut tentu saja tidak dapat diterapkan secara persis sama dalam aturan perpajakan karena hukum perpajakan juga harus mempunyai nilai keadilan. penghitungan laba rugi mungkin merepotkan tetapi tentu saja agar adil, dimana WP yang tidak rugi tidak bayar pajak, sedangkan WP yang mempunyai laba baru bayar pajak.

Mengenai efisisiensi pun terus dilakukan , misalnya:

1. adanya aturan bahwa pembayaran PPh Pasal 25 yang dilakukan pada Bank yang on line dengan DJP tidak perlu melaporkannya ke kantor pajak (Per-22/PJ.2008 tanggal 12 Mei 2008)

2. adanya e-SPT, sehingga menghemat kertas

3. adanya e-filling (KEP-05/PJ./2005), sehingga pelaporan pajak dapat dilakukan di depan komputer.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: