tulisan itu masih bisa menarik


Gambar bisa bercerita dengan ribuan kata. Hebatnya lagi, pada zaman yang serba canggih ini, gambar bisa dibuat dalam waktu hitungan detik. Lebih menakjubkan pula, dengan perkembangan hardware dan software photography yang pesat, gambar bisa direkayasa dan dimanipulasi saeneke dewe.

Saya begitu menikmati karya-karya photo dari profesional dan amatir photographer yang bisa membuat gambar yang lebih indah dari aslinya. Dengan IT yang canggih, orang yang tidak mempunyai latar belakang photography bisa membuat gambar yang wah.

Saya juga cemburu dengan photographer, mereka bisa membuat karya indah hanya dalam hitungan detik dan bisa dishare ke dunia maya dalam hitungan detik juga. Bandingkan dengan menulis. Menulis memerlukan waktu lama dan sulit (menurut ukuran saya) untuk menjadi karya indah dan bisa dinikmati.

Teringat obrolan dengan seorang kawan yang hobby photography dan memiliki studio photo. Ia bisa mendapatkan rupiah dalam ratusan ribu bahkan jutaan hanya dengan menjepret (istilah awam memphoto) sedangkan tulisan saya yang dibuat dengan susah payah (ngapain juga susah payah menulis, menulis kan untuk bersenang-senang mengeluarkan imajinasi dan fikiran) hanya dihargai beberapa ratus ribu.

Saya masih tetap akan menulis. Entah berguna, entah tidak. Dibayar atau tidak dibayar. Ini bukan masalah uang, bukan pula masalah manfaat. Menulis adalah panggilan jiwa, kesenangan, sarana untuk mengeluarkan imajinasi. Menulis juga merupakan salah satu cara untuk bisa hidup lebih dari usia yang sebenarnya karena ketika penulis meninggalkan dunia ini, tulisannya akan tetap hidup.

Dengan photo dan video yang bisa dibuat dengan cara yang lebih mudah dan dapat dibuat oleh siapa saja karena alatnya sudah bisa dibuat dengan HP yang ada kameranya dan kamera canggih pun sudah bisa dibuat dalam bentuk yang begitu mini. Saya terkadang ragu, apakah kegiatan menulis akan segera punah. Membaca tulisan panduan pun kurang menyenangkan dibanding dengan panduan yang dibuat dalam video dan gambar.

Beberapa waktu lalu, ketika gegap gempitanya euforia kemenangan timnas sepakbola Indonesia, seorang penulis blog menulis dengan judul surat untuk Firman Utina dalam blognya di etonesia.com. Hanya beberapa jam kemudian, tulisan tersebut menyebar ke situs berita detik.com dan beberapa situs lainnya, dibahas di banyak milis dan dicopas di facebook bahkan jadi bahasan diskusi di beberapa forum diskusi.

Akhirnya saya menyadari menulis belum punah dan masih memiliki banyak ruang untuk berpartisipasi dalam kehidupan.

Mengemukakan pendapat merupakan salah satu hak asasi dan telah diakui oleh konstitusi. Dalam praktiknya, mengemukakan pendapat lewat tulisan bisa jadi hal yang menyenangkan, bisa juga hal yang tidak menyenangkan bagi pihak tertentu. Sebuah tulisan bisa menjadi merepotkan bagi penulis ketika tulisannya bergesekan dengan pihak yang berkuasa.

Tulisan pun bisa memberikan inspirasi, menjadi pedoman, bahkan bisa dianggap kitab suci. Penulisnya akan dikenang, tulisannya menjadi bahan kajian para pemikir dan cerdik pandai.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: